Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Yokohama’

Cerita dari Yokohama

“The significance of this project is that we have been able to do something unprecedented, thanks to the help and understanding of many people and artists who have provided something this town never had before. The Koganecho Bazaar isn’t some kind of far-distant, future utopia. What we are carrying out here is something that will have concrete results very soon.”
– Shingo Yamano, An Unbelievable True Story, 2008

Setelah menghabiskan waktu hampir satu minggu di Tokyo, saya melanjutkan program kunjungan saya ke kota Yokohama. Kali ini kedatangan saya ke kota ini bukan untuk menyaksikan Yokohama Triennale 2008, melainkan untuk melakukan studi pengembangan kota kreatif dengan mengunjungi beberapa institusi seni dan lembaga pemerintah kota Yokohama yang terkait dengan pengembangan kebijakan Creative City Yokohama. Saya berangkat dengan menggunakan kereta bersama Aki Hoashi (Japan Foundation Tokyo). Perjalanan dari Tokyo ke Yokohama memakan waktu kurang lebih setengah jam dengan menggunakan kereta.

Sesampainya di Yokohama saya langsung melihat banner besar Yokohama Triennale 2008 yang berwarna hijau toska terpampang di jalur kedatangan. Kegiatan seni rupa tiga tahunan ini adalah acara yang penting bagi kota Yokohama, dan merupakan salah satu kegiatan triennale seni rupa yang diperhitungkan di tingkat dunia. Diselenggarakan untuk yang ke tiga kali, tahun ini Yokohama Triennale 2008 diselenggarakan mulai dari tanggal 13 September s/d 30 November 2008. Salah seorang seniman perwakilan dari Indonesia yang berpartisipasi untuk kegiatan ini adalah Jompet, seorang seniman dari Yogyakarta yang banyak berkarya dengan memanfaatkan teknologi elektronik.

Dari stasiun kereta, saya dan Aki Hoashi kemudian berjalan kaki menuju gedung BankART 1929 yang terletak di salah satu jantung pusat perkantoran Yokohama. BankART 1929 adalah sebuah lembaga seni dan budaya kontemporer yang dibentuk sebagai bagian dari proyek revitalisasi kawasan pusat kota yang dikembangkan oleh pemerintah kota Yokohama. Salah satu strategi yang dikembangkan dalam proyek ini adalah memperbaharui kondisi bangunan yang memiliki nilai sejarah untuk kemudian dimanfaatkan bagi pengembangan kegiatan kebudayaan dan seni kontemporer. Gedung BankART 1929 memanfaatkan bekas bangunan Daiichi Bank yang didirikan pada tahun 1929, bersamaan dengan pembukaan Museum of Modern Art di New York yang diresmikan pada tahun yang sama. Saat ini BankART 1929 berkembang menjadi lembaga yang merupakan kombinasi dari institusi publik dan privat yang memiliki kemandirian dalam mengembangkan kebijakan dan kegiatannya.

Di gedung BankART 1929, saya bertemu dengan Osamu Ikeda, direktur dari BankART 1929 yang memiliki karakter yang sangat ramah. Kami berbincang-bincang mengenai berbagai kegiatan dan kebijakan yang dikembangkan oleh BankART 1929, yang merupakan salah satu pusat bagi kegiatan seni kontemporer yang penting di kota Yokohama. Menurut catatan Osamu Ikeda, pencantuman tahun 1929 merupakan sebuah simbol untuk mengingat peristiwa kepanikan dunia ketika terjadi kerontokan di pasar saham global. Untuk hal ini, kehadiran seni menjadi sangat bermakna dalam menghadapi situasi ekonomi yang suram. Untuk menjalankan kegiatannya, BankART 1929 bermitra dengan pemerintah kota dan beberapa institusi bisnis di Yokohama. Selain itu, BankART 1929 juga mengembangkan beberapa unit bisnis dengan mengembangkan sekolah bagi mereka yang ingin meningkatkan pengetahuan di bidang seni, selain menyewakan studio, membuka café, toko souvenir, dsb.

Ketika saya datang, kebetulan BankART 1929 sedang menyelenggarakan program BankART Life II yang diisi dengan berbagai kegiatan pameran, pertunjukan dan seni di ruang publik yang tersebar di beberapa lokasi. Kegiatan ini juga terkait dengan pelaksanaan Yokohama Triennale 2008 dan pembukaan Koganecho Bazaar, yang kesemuanya mengambil fokus pada perkembangan seni dan kebudayaan kontemporer. Di gedung BankART 1929 sendiri diselenggarakan pameran seni kinetik yang menampilkan kumpulan karya seniman Jepang yang memanfaatkan teknologi mekanik. Beberapa diantara seniman yang terlibat adalah Yanobi Kenji, Isozaki Michiyoshi, Tanaka Shintaro, Nakamura Tetsuya, Imamura Hajime, Kawase Kohske, Kimura Takahito, Nakara Kodai, dsb.

Setelah menyaksikan pameran di BankART 1929, saya kemudian mengunjingi sebuah pameran yang diselenggarakan oleh sebuah biro arsitektur yang menyelenggarakan pameran di sebuah gedung tua tempat mereka bekerja. Selanjutnya, saya kemudian bertemu dengan Kawaguchi Ryoichi, direktur eksekutif dari kantor divisi Creative City Yokohama dan program Perayaan 150 Tahun Pembukaan Pelabuhan Yokohama, dan meneruskan perbincangan dengan Imai Shinji (Manager) dan Yamashita Yumi (Ass. Manager) dari divisi promosi Creative City Yokohama. Semua divisi ini secara khusus dibentuk oleh pemerintah kota Yokohama untuk mengembangkan kebijakan kota kreatif yang implementasinya dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan para pelaku dan profesional di dunia kreatifitas. Dalam mengembangkan kebijakan dan programnya, divisi ini juga banyak menjalin hubungan kerjasama dengan para peneliti, akademisi, urban planner, lembaga keuangan, arsitek, manajer seni, seniman, perusahaan swasta, dsb.

Salah satu institusi yang menjadi mitra bagi pemerintah kota Yokohama adalah Yokohama Arts Foundation yang bertugas mengembangkan program Arts Commission Yokohama dan mengelola gedung ZAIM. Gedung ini adalah sebuah banguan tua yang dimanfaatkan menjadi ruang serba guna yang memiliki beragam fungsi dan kegiatan. Mulai dari café, studio, kamar gelap, ruang pamer, pusat arsip, ruang konsultasi bagi seniman muda, dsb. Di gedung ini, saya juga berkesempatan untuk bertemu dengan Fukutomi Junko (ZAIM Manager/ Ketua Koordinator Arts Commission Yokohama) dan Sugizaki Eisuke (Koordinator Arts Commission Yokohama).

Saya kemudian diajak berkeliling melihat berbagai fasilitas dan kegiatan yang diselenggarakan di gedung ZAIM. Salah satu kegiatan yang menarik adalah pusat arsip seniman dan ruang konsultasi bagi para seniman muda agar dapat mengembangkan karirnya secara lebih profesional. Selain itu, Arts Commission Yokohama juga menyediakan berbagai informasi yang berkenaan dengan lokasi, gedung, organisasi, maupun program yang bermanfaat bagi pengembangan kegiatan seni dan budaya di kota Yokohama. Tugas utama dari Arts Commission Yokohama adalah menyediakan prasarana, membangun jejaring informasi dan koneksi diantara para pelaku di dunia kreatifitas, sehingga berbagai kebijakan dan program pengembangan kota kreatif di Yokohama dapat dilakukan secara maksimal dan berkelanjutan.

Selepas berbincang-bincang dengan Fukutomi Junko, saya kemudian mengunjungi Koganecho Bazaar yang baru saja diresmikan pada bulan September s/d November 2008. Tempat ini adalah pusat kegiatan seni dan budaya kontemporer yang merupakan bagian dari program revitalisasi dan regenerasi daerah Kogane-cho yang semula dikenal sebagai daerah yang sarat dengan prostitusi dan perdagangan obat bius. Terletak tepat di pinggir sungai Ooka, Koganecho Bazaar dikembangkan oleh pemerintah lokal dengan melibatkan penduduk setempat dan aparat keamanan dengan tujuan membangun kembali daerah Kogane-cho. Pada tahun 1923, daerah ini sempat terbakar dan hancur karena peristiwa gempa Kanto. Selanjutnya daerah ini kembali hancur dan memakan banyak korban beberapa saat menjelang kekalahan Jepang di Perang Dunia ke-II. Menurut catatan yang ada, tempat ini juga pernah menjadi lokasi shooting film legendaris “High and Low” yang dibuat oleh Akira Kurosawa pada tahun 1963.

Berbagai fasilitas utama Koganecho Bazaar secara garis besar dibangun dengan memanfaatkan kolom-kolom di bawah jembatan rel kereta api yang melintasi kawasan Hinode-cho dan Kogane-cho. Secara perlahan, pembangunan Koganecho Bazaar kemudian meluas ke daerah sekitar yang sebelumnya banyak dimanfaatkan oleh gengster setempat untuk melakukan bisnis prostitusi dan obat bius. Saat ini, Koganecho Bazaar mulai diramaikan dengan keberadaan galeri, studio seniman, toko desain dan fashion, café, dsb. Ketika saya berkunjung ke tempat ini, saya sempat berbincang-bincang dengan Shingo Yamano (Director) dan Mayumi Hirano (Project Team). Keduanya adalah organizing committee yang bertanggung jawab dalam mengelola kegiatan di daerah Koganecho Bazaar. Menurut mereka berdua, wilayah ini sebelumnya dikuasai oleh dua gangster besar sehingga berbagai kegiatan yang dikembangkan harus dilakukan secara hati-hati dengan melibatkan penduduk dan polisi yang berjaga selama 24 jam. Namun saat ini Koganecho Bazaar secara perlahan telah berubah menjadi salah satu daerah yang paling aman dan menyenangkan di Yokohama.

Kunjungan saya di Yokohama ditutup dengan menyusuri wilayah Kogane-cho yang pada saat itu semarak dengan berbagai kegiatan pameran dan pertunjukan seni. Saya sempat mengunjungi beberapa café, galeri dan studio seniman, selain melongok beberapa toko dan rumah penduduk setempat. Menurut saya, strategi pengembangan dan revitalisasi daerah Kogane-cho merupakan sebuah contoh yang ideal ketika pemerintah setempat bekerjasama dengan penduduk lokal dan mengembangkan kegiatan seni untuk memberikan makna dan membangun reputasi yang baru bagi sebuah wilayah yang sebelumnya dipenuhi dengan kegiatan bisnis illegal. Sebelum saya kembali ke Tokyo, bersama dengan Aki Hoashi saya menyaksikan pertunjukan teater yang berjudul the Message, yang dipersembahkan oleh Makhampom Theater Group (Thailand) di pinggir sungai Ooka. Sungguh sebuah pengalaman satu hari yang mengesankan.

Advertisements

Read Full Post »