Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Shinto’

brut

Setelah melakukan observasi di kota Osaka, beberapa hari setelahnya saya dan Hisako Hara berkunjung ke daerah Omihachiman. Terletak di pinggir kota Kyoto, Omihachiman adalah sebuah kota kecil yang berdiri diantara kaki pegunungan yang sejuk. Saya berangkat sendirian dari Osaka dan bertemu dengan Hisako Hara di Stasiun Omihachiman. Dari stasiun ini, kami kemudian melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bus yang langsung membawa kami ke sebuah daerah pemukiman tua yang terletak tepat di kaki Gunung Hachiman.

Di Omihachiman, kami kemudian menyusuri daerah pemukiman yang masih dipenuhi oleh rumah tradisional Jepang dan beberapa bangunan yang terpengaruh oleh bangunan arsitektur bergaya victorian. Salah satunya adalah sebuah bekas bangunan kantor pos yang saat ini telah beralih fungsi menjadi sebuah museum dan toko barang antik. Disebelahnya, terdapat sebuah pabrik sake dan beberapa bangunan tua yang berfungsi sebagai gudang tempat penyimpanan minuman. Selain daerah pemukiman tua, di wilayah ini juga terdapat beberapa studio keramik, galeri, serta kuil agama Shinto dan Buddha. Tampaknya beberapa bangunan yang ada di wilayah ini merupakan bangunan yang dilestarikan oleh pemerintah setempat karena wilayah ini merupakan salah satu daerah tujuan wisata yang penting di Kyoto.

Kami kemudian melanjutkan perjalanan dengan mengunjungi Gallery No-Ma, yang artinya kira-kira “tanpa batas”. Galeri ini memanfaatkan sebuah rumah tua yang dikelola oleh pemerintah. Di sana kami menyaksikan pameran yang menampilkan beberapa karya seniman Jepang semisal Suzuki Osamu, Shyji Takashi, Ueda Shoji, Mitsuhashi Seiki, Kinoshita Susumu, dan Yohizawa Takeshi. Pameran yang diselenggarakan di dua lokasi yang berbeda ini menampilkan karya keramik, gambar, fotografi, obyek dan instalasi. Salah satu karya yang menarik adalah seri karya fotografi milik Ueda Shoji yang dikenal sebagai figur penting dalam perkembangan fotografi modern di Jepang. Karya lain yang juga menarik adalah karya milik Suzuki Osamu yang menampilkan beberapa karya gambar, instalasi dan sekumpulan perahu yang terbuat dari kardus.

Selain menampilkan karya dari para seniman yang sudah dikenal di Jepang, pameran ini juga menampilkan beberapa karya dari para seniman yang memiliki kebutuhan khusus. Mereka kerap disebut sebagai kelompok “outsider” dalam perkembangan seni rupa di Jepang. Meskipun rata-rata para seniman ini tidak memiliki tujuan yang sama dengan umumnya seniman ketika membuat karya seni, namun karya mereka tetap memiliki kualitas artistik serta menyiratkan energi kreatifitas yang mendalam. Beberapa karya mereka dibangun dengan bahasa visual yang sederhana namun tampak penuh dengan misteri. Dalam pameran ini, beberapa karya dari para seniman yang memiliki kebutuhan khusus ditampilkan oleh Yoshizawa Takeshi, Mitsuhashi Seiki, dan Shyji Takashi.

Selepas berkeliling di daerah Omihachiman, saya dan Hisako Hara kemudian beristirahat sejenak sambil makan siang. Setelahnya, kami kemudian kembali ke stasiun untuk mengunjungi Museum of Modern Art yang terletak di daerah Shiga. Di tengah perjalanan menuju stasiun, saya melihat sekelompok ibu-ibu tengah melukis pemandangan di sekitar kanal yang dulunya kerap digunakan untuk mengangkut bahan-bahan hasil pertanian dan karya kerajinan di daerah Omihachiman. Mereka tampak sangat menikmati suasana di sekitar kanal yang teduh dan dipenuhi oleh pepohonan yang rindang.

Sesampainya di Shiga, kami langsung menuju ke Museum of Modern Art yang juga terletak di pinggiran kota Kyoto. Menurut Hisako Hara, banyak gedung pusat kebudayaan di Jepang yang di bangun di pinggiran kota pada tahun 1970-an. Gedung Museum of Modern Art di Shiga adalah salah satu dari gedung-gedung yang dibangun pada era tersebut. Dalam perjalanan menuju ke daerah Shiga, saya diperkenalkan kepada Kobuki Takafumi, seorang jurnalis yang bekerja di Kyoto. Selanjutnya saya diperkenalkan kepada Akiko Kasuya, yang bekerja sebagai staff pengajar untuk Kyoto City University of Arts.

Sesampainya di museum, kami langsung menuju ke ruang pameran yang menampilkan karya-karya seniman Brut Art. Kebetulan hari ini adalah pembukaan pameran yang secara khusus menampilkan karya para seniman Brut Art koleksi Art Brut Connaissance & Diffusion (ABCD) di Paris. Setelah membaca banyak informasi mengenai gerakan Brut Art selama beberapa tahun ke belakang, akhirnya saya berkesempatan untuk menyaksikan karya para seniman Brut Art yang merupakan sebuah gerakan seni yang cukup penting sejak era 1920-an. Dulu, karya dari para seniman ini kerap tidak dianggap sebagai karya seni sampai kemudian karya-karya mereka ditemukan secara tidak sengaja ketika para senimannya sudah meninggal.

Dalam perkembangan seni modern, karya para seniman Brut Art juga sering dianggap sebagai karya para “outsider”, yang menyempal dari gerakan seni modern mainstream. Kebanyakan dari para seniman Brut Art memang bukan seniman dan sedikit sekali yang memiliki intensi yang sama dengan kebanyakan seniman ketika mereka membuat karya seni. Walaupun begitu, karya-karya para seniman Brut Art tetap diapresiasi secara luas karena dinilai memiliki kualitas artistik yang sama dengan karya para seniman profesional. Bagi saya, karya para seniman Brut Art merupakan sekumpulan karya seni yang memiliki misteri dan terkadang menampilkan gambaran dari penjelajahan spiritual yang mendalam. Meskipun kadang terlihat absurd, karya mereka rasanya secara kuat menampilkan dimensi spiritualitas sebagaimana karya para shaman di era modern.

Dalam pameran ini, saya dikenalkan kepada Atsuo Yamamoto yang bekerja sebagai kurator di Museum of Modern Art, Shiga. Beberapa tahun yang lalu, ia pernah berkunjung ke Bandung terkait dengan proyek Under Construction yang merupakan program Japan Foundation yang melibatkan para seniman dan kurator yang berasal dari beberapa negara di Asia. Menurutnya, selama ini banyak orang yang memiliki anggapan yang kurang tepat dengan menyebut gerakan Brut Art sebagai gerakan seni yang dibuat oleh orang gila. Lepas dari latar belakang para senimannya, Brut Art merupakan sebuah gerakan yang penting dalam perkembangan seni modern di Eropa. Karya para seniman Brut Art kerap mencerminkan spirit dan misteri dari petualangan imajinasi dan kreatifitas manusia. Meskipun dianggap sebagai sempalan dari gerakan mainstream, karya para seniman Brut Art juga ikut memberikan pengaruh yang penting bagi perkembangan seni modern, terutama bagi beberapa seniman semisal Jean Dubuffet dan André Breton yang merupakan figur penting bagi kelahiran gerakan surealisme di Eropa.

Selepas menyaksikan pameran ini, saya kemudian sempat berbincang-bincang dengan Minori Kuroda yang bekerja sebagai koordinator di The Institute of Ceramic Studies di Kota Koka yang juga terletak di wilayah Shiga. Kebetulan tempatnya bekerja juga merupakan tuan rumah untuk program pertukaran dan residensi Jenesys. Sampai saat ini, tempatnya bekerja sudah menjadi tuan rumah bagi beberapa seniman keramik yang berasal dari India, Indonesia dan Kamboja. Salah satu pesertanya adalah Nurdian Ichsan, seorang teman saya yang saat ini bekerja sebagai staff pengajar di FSRD – ITB. Tak lama setelah berkenalan, kami kemudian bersama-sama meninggalkan museum. Saya dan Hisako Hara kemudian menuju ke stasiun untuk kembali ke Osaka dengan menggunakan kereta.

Advertisements

Read Full Post »

Kegiatan seni dan kebudayaan tampaknya selalu mengisi kehidupan masyarakat di kota Tokyo yang riuh rendah dengan berbagai kesibukan dan aktifitas. Salah satunya adalah program Akasaka Art Flower 08 yang menampilkan sekitar 18 karya seniman Jepang yang telah sering berpameran baik di dalam maupun di luar negeri. Kegiatan ini dikurasi oleh Kenji Kubota dan menampilkan karya dari para seniman seperti Yayoi Kusama, Tatzu Oozu, HITOTZUKI (Kami X Sasu), Mitsohiro Ikeda, Yusuke Asai, Tsuyoshi Ozawa, paramodel, SOJU TAO + Okame Pro, Takako Susai, Noboru Tsubaki, Yoko Ono, Tochka, Satoru Aoyama, Mitsunori Kurashige, Yosuke Amemiya, Nobuhiro Shimura, Shoko Matsumiya, dan Takafumi Hara. Beberapa diantara para seniman ini juga pernah menampilkan karyanya di Indonesia dalam kegiatan Kita!! Japanese Artist Meet Indonesia.

Pameran ini menampilkan karya seni yang mengintervensi ruang-ruang publik, beberapa gedung komersial, dan tempat-tempat khusus di wilayah Akasaka. Dalam pengantarnya, Kenji Kubota menuliskan bahwa relasi antara seni dan masyarakat saat ini semakin menunjukan potensi yang dinamis dan keterkaitan yang tak berkesudahan. Dengan menampilkan karya seni di beberapa tempat khusus di Akasaka, pameran ini hendak mengajak masyarakat setempat untuk memaknai berbagai potensi wilayah Akasaka yang selama ini seakan masih tersembunyi. Penyelenggaraan pameran ini juga didukung penuh oleh Tokyo Broadcast System (TBS), yang lahir dan mengembangkan bisnisnya di wilayah Akasaka. Pameran ini merupakan salah satu bentuk kontribusi TBS dalam mengembangkan wilayah Akasaka sebagai salah satu pusat kegitan budaya yang baru di kota Tokyo.

Saya mengunjungi pameran ini bersama-sama dengan Keiko Suzuki dari Japan Foundation Tokyo. Keiko juga mengajak seorang temannya yang menunggu kami di dekat patung Hachiko yang terletak di daerah Shibuya. Kami kemudian menuju ke stasiun Akasaka dan bertemu dengan Mizuho Ishii yang pernah berkunjung ke Common Room beberapa waktu yang lalu. Lokasi pertama yang saya kunjungi adalah sebuah bangunan bekas gedung Sekolah taman kanak-kanak yang disulap menjadi ruang pameran yang menampilkan beberapa karya dari HITOTZUKI (Kami X Sasu), Mitsohiro Ikeda, Yusuke Asai, Tsuyoshi Ozawa, paramodel, SOJU TAO + Okame Pro dan Takako Susai. HITOTZUKI (Kami X Sasu) menampilkan karya mural berwarna-warni yang terletak di dinding gerbang sekolah. Tak berapa jauh dari gerbang masuk, saya kemudian menyaksikan karya dari Mitsuhiro Ikeda yang menampilkan proyeksi siluet aktifitas anak-anak yang tampak misterius. Tepat di pintu masuk, saya kemudian menyaksikan karya dari Yusuke Asai yang memenuhi dinding dan lantai ruangan dengan lukisan yang menggunakan bahan dasar lumpur.

Sementara itu, Tsuyoshi Ozawa menampilkan karya berupa gunungan dari kasur lengkap dengan terowongan kereta api yang memungkinkan pengunjung untuk bermain-main bersama dengan anak-anak yang juga ikut mengunjungi pameran ini. Sementara itu, di ruangan yang sama paramodel menampilkan karya paramodelic-graffiti berupa jalur mainan kereta api yang dipasang memenuhi ruangan yang semula digunakan sebagai tempat berolah raga. Di ruangan yang lain, saya kemudian menyaksikan karya dari Soju Tao + Okame Pro, Takako Susai yang begitu ringan dan memancarkan energi yang sangat positif. Tampaknya semua karya yang ditampilkan di gedung ini memang ditujukan untuk anak-anak. Tak heran apabila banyak dari pengunjung adalah keluarga yang mengajak anak mereka untuk berlibur sambil menikmati karya seni yang ditampilkan di gedung ini.

Ketika hendak beranjak ke lokasi yang lain, kami kemudian bertemu dengan Takeshi (Tochka). Kebetulan dia juga ikut terlibat di dalam kegiatan ini dan berencana untuk mempresentasikan karyanya di daerah Akasaka Sacas, sebuah kompleks gedung hiburan yang terletak di wilayah perkantoran milik TBS. Sebelum melanjutkan untuk menyaksikan karya, kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu di restoran Jembatan Merah yang terletak tidak begitu jauh dari gedung taman kanak-kanak Akasaka. Restoran ini adalah restoran khusus yang menyajikan masakan Indonesia. Ketika saya memasuki restoran ini, suasana restoran khas Indonesia langsung terasa. Rupanya bagi sebagian masyarakat di Jepang, restoran Jembatan Merah adalah restoran yang cukup dikenal. Tempat ini juga sering digunakan sebagai ajang kumpul-kumpul bagi sebagian orang Indonesia yang tinggal dan bekerja di Jepang.

Selepas makan siang di Restoran Jembatan Merah, kami kemudian berjalan kaki untuk melihat karya Noboru Tsubaki yang menampilkan dua ekor burung raksasa berwarna kuning yang bertengger di taman tepat di belakang gedung Akasaka Biz Tower. Selanjutnya kami kemudian menyaksikan karya milik Tatzu Oozu, berupa instalasi rumah yang absurd di pelataran gedung TBS. Rupa-rupanya karya ini berhasil mencuri perhatian orang-orang yang kebetulan tengah melintasi daerah ini. Tidak terlalu jauh dari pelataran gedung TBS, kami kemudian menuju ke daerah Akasaka Sacas untuk menyaksikan karya dari Yayoi Kusama yang berjudul Dots Obsession. Karya Yayoi Kusama tampil menonjol dengan ruangan dan beragam bentuk balon yang didominasi oleh pola bintik-bintik berwaran kuning dan hitam.

Di lokasi yang sama, kami kemudian menyaksikan presentasi dari Tochka yang salah satunya menampilkan karya mereka yang dibuat di Bandung. Sungguh merupakan sebuah pengalaman yang membanggakan ketika menyaksikan karya yang dibuat dengan melibatkan sekelompok masyarakat di kota Bandung. Setelahnya, kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Kuil Hikawa untuk menyaksikan karya milik Yoko Ono. Beberapa diantara karya yang dipamerkan adalah “Wish Tree”, “Sky TV”, dan “Three Mounds”. Banyak orang tampak ikut menuliskan harapan mereka di atas secarik kertas yang kemudian digantungkan pada ranting pohon karya instalasi Yoko Ono yang berjudul “Wish Tree”. Selanjutnya saya kemudian tertegun ketika menyaksikan karya ‘Three Mounds”, yang berupa tiga gunungan yang terbuat dari pasir. Masing-masing dibubuhi dengan tulisan diatas secarik kertas dengan bunyi “Okinawa”, “Hiroshima”, dan “Nagasaki”. Ketiganya adalah daerah yang luluh lantak dibombardir tentara sekutu dalam peristiwa Perang Dunia II.

Ketika tengah menyaksikan pameran, secara kebetulan dibagian dalam kuil tengan diselenggarakan sebuah upacara kawinan dengan ritual agama Shinto. Agama ini adalah salah satu agama yang paling tua bagi masyarakat Jepang. Untuk sementara perhatian kami kemudian tertuju pada kegiatan ritual yang dilaksanakan dengan khusyuk. Setelahnya, kami kemudian melanjutkan perjalanan kami menuju ke lokasi pameran yang lain, yaitu gedung Shimazaki. Konon tempat ini kerap digunakan untuk pertemuan rahasia diantara para petinggi dan elit politik di kota Tokyo. Gedung ini memiliki ukuran yang tidak seberapa besar dan terdiri dari beberapa ruangan yang kecil-kecil. Ketika kami mendatangi gedung ini, ruangan di dalam gedung penuh sesak oleh pengunjung yang ingin menyaksikan karya dari Tochka, Satoru Aoyama, Mitsunori Kurashige, Yosuke Amemiya, Nobuhiro Shimura, dan Shoko Matsumiya.

Tak berapa lama, kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju bekas gedung perpustakaana Akasaka untuk menyaksikan karya dari Takafumi Hara. Didominasi dengan lukisan berlatar belakang warna pink, karyanya terlihat begitu mencolok di permukaan dinding gedung yang terlihat kusam. Karya dari Takafumi Hara mencoba untuk menampilkan ingatan kolektif penduduk Akasaka yang dikumpulkan melalui serangkaian aktifitas wawancara antara seniman dengan penduduk setempat. Beberapa diantaranya menceritakan suasana Akasaka di zaman perang, sementara itu ada juga karya yang mempersoalkan proses pembangunan di wilayah Akasaka yang begitu pesat akhir-akhir ini. Tampaknya karya ini memang ditujukan untuk menjadi semacam monumen yang merekam ingatan para penduduk wilayah Akasaka. Ditampilkan dengan warna yang begitu mencolok, karya ini sepertinya mengajak kita untuk memaknai kembali ingatan kolektif dan respon penduduk setempat akan proses pembangunan di wilayah Akasaka.

Selanjutnya kami kemudian kembali berjalan menuju ke daerah Tokyo Midtown yang merupakan perbatasan antara wilayah Akasaka dengan Roppongi. Di sana kami kembali menyaksikan karya Yayoi Kusama yang dipamerkan di dua lokasi. Masih dengan tema bintik-bintik, karya Yayoi Kusama dipamerkan di hamparan taman terbuka di luar gedung Tokyo Midtown. Sementara itu, karyanya yang lain dipamerkan bergelantungan di dalam gedung, yang merupakan pusat bagi aktifitas niaga dan perkantoran. Dari gedung Tokyo Midtown saya kemudian beranjak ke daerah Shibuya, sementara Keiko dan teman-teman melanjutkan jalan-jalan di daerah Akasaka. Kami berjanji untuk bertemu kembali di bekas gedung taman kanak-kanak Akasaka untuk menyaksikan pertunjukan dari Strange Kinoko Dance Company. Malam itu, kunjungan saya ke daerah Akasaka diakhiri dengan menyaksikan pertunjukan dari kelompok tari Strange Kinoko Dance Company yang dibuka dengan pertunjukan absurd dari SOJU TAO + Okame Pro.

Read Full Post »

“When Time shall have softened passion and prejudice,
when Reason shall have stripped the mask from misinterpretation,
then Justice, holding evenly her scales, will require
much of past censure and praise to change places.”

Dr. Radha binod Pal

Uraian di atas terpampang di atas permukaan sebuah batu granit yang menampilkan sesosok figur dengan ekspresi wajah yang begitu lembut dan menyejukkan. Dr Radha pinod Pal adalah seorang hakim yang menjadi perwakilan India ketika bertugas dalam sebuah pengadilan militer di kota Tokyo pada bulan Mei 1948. Dalam persidangan yang dikenal luas sebagai proses Pengadilan Tokyo (Tokyo Trial), Dr. Radha binod Pal tampil sebagai figur yang bekerja keras untuk meredam hasrat balas dendam tentara sekutu dan mengupayakan koreksi atas perspektif yang bias mengenai fakta sejarah di seputar pertempuran antara bala tentara Kerajaan Jepang dengan pasukan sekutu di Perang Dunia II.

Pernyataan dari Dr. Radha binod Pal terpampang jelas dalam sebuah monumen yang didedikasikan untuknya di Kuil Yasukini. Bagi sebagian kalangan masyarakat di Jepang, keberadaan Kuil Yasukuni barangkali merupakan kontroversi yang rumit terkait dengan keberadaan para penjahat perang yang ikut dimakamkan di kuil ini. Dalam beberapa kesempatan, kunjungan para menteri dan perdana menteri dari kabinet pemerintahan Jepang juga kerap melahirkan gelombang protes, baik oleh sebagian masyarakat di Jepang maupun dari beberapa negara semisal Cina, Korea Utara dan Korea Selatan. Keberadaan Kuil Yasukuni juga sering dianggap sebagai sebuah upaya revisi sejarah dan glorifikasi dari perilaku militer bala tentara Kerajaan Jepang yang agresif di masa lalu.

Ketika saya berkunjung ke kuil ini, saya merasakan adanya kegamangan yang luar biasa. Meskipun masih merupakan sumber kontroversi bagi sebagian masyarakat di Jepang, tampaknya hal ini tidak dapat mencegah kedatangan para warga sepuh yang beragama Shinto untuk datang dan berdoa bagi mereka yang telah berguguran dalam medan perang. Di sekeliling kuil ini juga terdapat beberapa patung dan monumen yang juga didedikasikan untuk para pejuang dan korban perang. Selain itu terdapat juga museum yang dibangun dengan megah diantara pepohonan dan taman kota yang sejuk. Saya merasa Kuil Yasukini adalah sebuah monumen yang menggambarkan kegamangan manusia akan kekejaman perang dan sejarah yang suram. Seperti yang diuraikan oleh Dr. Radha binod Pal, tampaknya hanya waktu yang dapat menjernihkan hasrat dan prasangka di seputar kontroversi mengenai keberadaan kuil ini.

Sebelum datang ke Kuil Yasukini, saya terlebih dahulu berkunjung ke Kandada dan bertemu dengan Masato Nakamura. Ia adalah seorang seniman yang merupakan salah satu pendiri dari CommandN, sebuah organisasi seniman yang didirikan di Tokyo pada tahun 1998. Mereka termasuk pelopor bagi perkembangan kelompok seniman yang mengembangkan berbagai proyek dan aktifitas kolaborasi dengan komunitas seniman lokal dan masyarakat umum di kota Tokyo. Kandada merupakan sebuah ruang serba guna yang kerap digunakan untuk menyelenggarakan berbagai proyek dan kegiatan CommandN. Selain banyak mengembangkan kegiatan di Tokyo, CommandN juga kerap mengembangkan proyek di kota lain dan berkolaborasi dengan penduduk setempat seperti di kota Kanazawa dan berbagai program di Himming Art Center.

Hari ini saya juga berkunjung ke NLI Research Institute untuk bertemu dengan Mitsuhiro (Mitch) Yoshimoto. Di NLI Research Institute, Mitch bekerja sebagai direktur untuk departemen Arts and Cultural Projects for Social Research Group. NLI Research Institute adalah sebuah lembaga riset yang didirikan pada bulan Juli 1988 oleh Nippon Life Insurance Company (NLI). Lembaga ini membawahi beberapa departemen riset yang bertanggung jawab untuk mengembangkan kebijakan dan rekomendasi bagi berbagai perusahaan maupun lembaga pemerintah. Menurut Mitch, saat ini berbagai kajian di bidang seni dan kebudayaan sangat diperlukan untuk memberikan gambaran yang berguna bagi pengembangan strategi dan kebijakan publik. Berbagai hasil riset dari NLI Research Institute kerap dimanfaatkan sebagai bahan referensi bagi berbagai institusi keuangan maupun pemerintahan. Salah satunya adalah pemerintah Yokohama yang bekerjasama dengan NLI Research Institute dalam mengembangkan strategi dan kebijakan Creative City Yokohama.

Setelah berbincang-bincang di NLI Research Institute, saya kemudian beranjak ke The National Museum of Art, Tokyo dan bertemu dengan Reiko Nakamura, asisten kurator untuk departemen seni lukis dan seni patung. Kebetulan di museum ini sedang diselenggarakan pameran Emotional Drawing yang menampilkan karya gambar dari 16 seniman yang berasal dari Eropa, Asia dan Timur Tengah. Diantara para peserta ada dua orang seniman Indonesia, yaitu S. Teddy D. dan Ugo Untoro. Keduanya berasal dari Yogyakarta. Reiko kemudian mengajak saya untuk mengamati koleksi museum yang saat itu tengah memamerkan kumpulan karya fotografi, lukisan dan patung yang mencakup karya para seniman yang berasal dari periode awal 1900 s/d 1980-an. Mulai dari karya seni lukis tradisional, sampai pada lukisan dan patung modern yang bergaya naturalisme, realisme, serta surealisme, kubisme, ekspresionisme dan abstrak yang dibagi ke dalam kategori waktu yang berbeda.

Dalam kesempatan ini saya menemukan kemiripan perkembangan seni modern di Jepang dan Indonesia. Khusus untuk periode 1950 s/d 1980 tampaknya ada kecenderungan perkembangan seni modern di Jepang dan Indonesia didominasi oleh kehadiran karya seni modern yang bersandar pada kanon estetika yang disebarkan oleh institusi seni di Eropa dan Amerika. Menurut Reiko, pada periode ini ada banyak seniman di Jepang yang mendapat kritik cukup keras karena dianggap mengabaikan berbagai persoalan sosial yang terjadi di sekeliling mereka. Hal ini relatif mirip dengan apa yang terjadi di Indonesia dalam kurun waktu periode yang sama. Di kalangan sebagian kritikus, ada kritik yang menyatakan bahwa institusi seni modern yang berkembang pada saat itu secara sengaja menyebarkan paham seni modern barat di Asia sebagai sebuah simulakra untuk mengalihkan perhatian para seniman dari berbagai persoalan yang ada di sekeliling mereka. Hal ini dikembangkan sekaligus sebagai alat untuk menangkal pengaruh politik dan ideologi komunis serta karya-karya realisme sosial yang pada saat itu dianggap sebagai alat propaganda politik kelompok sosialis di Asia.

Read Full Post »