Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Nara’

Hari ini saya diundang untuk makan malam di rumah keluarga Shoko Nakata yang terletak di kota Ando. Kebetulan hari ini libur, sehingga Shoko memutuskan untuk menjemput saya lebih awal agar dapat mengunjungi beberapa kota kecil di sekitar Osaka. Kalau sedang lancar, jarak antara kota Ando dan Shinobugaoka kira-kira memakan waktu sekitar 30 menit saja. Karena jaraknya yang relatif dekat, Shoko datang sekitar jam satu siang bersama Roni, teman sekantornya yang berasal dari Tasikmalaya.

Kami memutuskan untuk tidak langsung menuju ke kota Ando, tetapi mengambil jalan memutar menuju pertigaan jalan yang mempertemukan wilayah Osaka, Kyoto, dan Nara. Shoko menjelaskan kalau di Jepang, pola pengelolaan daerahnya relatif lebih sederhana apabila dibandingkan dengan Indonesia. Di Jepang tidak ada pemerintah provinsi. Yang ada adalah pemerintah pusat, kabupaten, kota dan desa. Di beberapa daerah tertentu ada juga pemerintah kecamatan. Biasanya sangat tergantung dengan luas daerah dan jumlah penduduknya.

Di sepanjang perjalanan, saya melihat bentangan sawah yang kelihatannya baru saja selesai di panen. Menurut Shoko, petani di Jepang biasanya hidup makmur karena mereka memiliki tanah dan menggarap sawah mereka secara mandiri. Para petani di Jepang juga kebanyakan punya asuransi, sehingga kalau ada yang gagal panen karena hama atau cuaca buruk, kerugian mereka bisa ditanggung oleh perusahaan asuransi. Hal ini rasanya sangat jauh dengan kondisi para petani di Indonesia, yang kebanyakan merupakan petani penggarap yang harus menanggung sendiri resiko gagal panen kalau sawahnya terkena hama atau cuaca buruk.

Sementara itu, di sini masyarakat yang bekerja dan sekolah di kota besar kebanyakan tinggal di kota kecil. Hal ini terjadi karena biaya hidup di Jepang yang relatif mahal, sehingga rata-rata masyarakat di sini memilih untuk hidup di kota kecil dan tinggal di rumah yang lebih sederhana. Banyak juga diantara mereka yang bepergian dengan menggunakan kereta. Untuk menunjang hal ini, pemerintah Jepang bersama-sama dengan sektor privat mengembangkan sistem transportasi publik yang dirancang dengan baik, sehingga masyarakat dapat bepergian dengan biaya yang murah tanpa harus telalu banyak menghabiskan waktu di jalan.

Sebelum menuju ke kota Ando, kami mampir dulu di Nara untuk kembali melihat-lihat situasi di pusat kota. Karena hari ini hari libur, kelihatannya ada banyak sekali turis yang datang ke kota ini. Kami melewati toko kue mochi Nakatanido yang masih saja dipenuhi oleh para pembeli. Selain itu, kami juga berjalan-jalan ke daerah pertokoan yang menjual makanan dan berbagai barang kerajinan tradisional yang khas dari kota Nara. Di pusat kota Nara, ada banyak sekali toko kecil yang menjual berbagai barang-barang yang menarik. Mulai dari kain, pakaian, buku, barang antik, kerajinan, sampai dengan bermacam jenis makanan yang dijual dengan harga yang sangat variatif.

Hari sudah mulai gelap, namun sebetulnya belum terlalu malam. Karena sekarang sudah menjelang musim dingin, biasanya kalau sudah sore matahari terbenam lebih awal. Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke kota Ando dengan melewati kota Tenri. Kota ini adalah pusat bagi penyebaran Agama Tenri, yang konon pertama kali dikembangkan oleh seorang perempuan yang bernama Miki Nakayama pada tahun 1838 . Selain itu, kota ini juga dikenal sebagai kota pendidikan karena di sini terdapat banyak sekolah dan mahasiswa. Salah satunya adalah Universitas Tenri, yang memiliki jurusan khusus Bahasa Indonesia. Shoko adalah salah satu mahasiswa yang pernah belajar bahasa Indonesia di kampus ini.

Tak berapa lama, kami kemudian sampai di kota Ando. Sebuah kota kecil yang letaknya kira-kira 10 km dari kota Tenri. Kota ini adalah sebuah daerah pemukiman yang menurut Shoko banyak ditinggali oleh para pensiunan. Tidak mengherankan apabila suasananya relatif lebih sepi apabila dibandingkan dengan kota Nara dan Tenri. Ketika sampai di rumah Shoko, kami langsung disambut oleh Ibu Machiko yang kemudian memperkenalkan saya kepada Pak Junicho Nakata. Keduanya adalah orang tua Shoko. Ibu Machiko adalah seorang ibu rumah tangga, sementara Pak Junicho bekerja sebagai pemilik toko ikan di pasar kota Ando.

Di rumah ini Shoko tinggal berempat bersama dengan kedua orang tua dan satu orang adik perempuan, selain tiga ekor anjing betina yang masih memiliki hubungan saudara. Sementara itu, kakaknya yang juga perempuan saat ini tengah bekerja di Taiwan sebagai guru bahasa Jepang. Ketika saya datang, kedua orang tua Shoko sudah menunggu dengan hidangan makan malam yang lengkap. Kami lalu makan dengan lahap sambil bertukar cerita tentang situasi di Jepang dan Indonesia. Kedua orang tua Shoko adalah karakter orang tua yang ramah. Mereka adalah gambaran keluarga sederhana yang tampaknya sangat menikmati kehidupan mereka.

Menurut Ibu Machiko, saat ini jarang ada keluarga di Jepang yang punya anak lebih dari satu. Di beberapa kota besar malahan banyak yang memutuskan untuk tidak menikah dan enggan punya anak karena biaya hidup yang semakin mahal. Karena terlalu sibuk bekerja, hubungan sosial masyarakat kota besar di Jepang juga relatif lebih individual sehingga menyebabkan banyak orang yang sering merasa kesepian. Menurutnya tidak mengherankan kalau ada banyak kasus bunuh diri di Jepang. Untuk Ibu Machiko, keluarganya memiliki arti yang sangat penting karena ia kemudian tidak pernah merasa kesepian dan dapat menanggung beban hidup secara bersama-sama.

Barangkali cerita Ibu Machiko merupakan kisah yang saat ini banyak terjadi di kota – kota besar di dunia. Menikah dan berkeluarga bagi sebagian kelompok masyarakat yang tinggal di kota besar merupakan sebuah dilema tersendiri. Kompleksitas persoalan sehari-hari dan beban hidup yang tinggi tampaknya mendorong banyak orang untuk hidup menyendiri. Di kota-kota besar, tampaknya memang banyak orang yang hidup dalam sepi. Bahkan di tengah keramaian sekalipun, saya terkadang menemukan sosok yang murung dan teralienasi oleh keadaan sekitar yang hiruk-pikuk.

Malam itu obrolan kami ditutup dengan satu botol sake hangat. Menurut Shoko, minum sake di malam hari dapat membuat tubuh lebih hangat dan membuat tidur kita lebih nyenyak. Sebelum terlalu malam, saya kemudian memutuskan untuk kembali ke Osaka sambil diantar oleh Shoko dan Roni. Ibu Machiko menitipkan satu kantung oleh-oleh untuk keluarga saya di Bandung. Setengah jam kemudian saya sudah kembali ke apartemen yang terletak di daerah Shinobugaoka. Ingatan saya kemudian kembali kepada pembicaraan yang menyenangkan dengan keluarga Shoko. Saya sangat berharap kami bisa bertemu kembali di lain waktu. Kalau tidak di Jepang, mungkin di Indonesia. Mudah-mudahan.

Advertisements

Read Full Post »

Toko Mochi Nakatanido

Setelah menghabiskan waktu beberapa saat di Nara Park, kami berjalan menyusuri Kota Nara dan melewati Toko kue mochi Nakatanido. Ketika kami melintas, di sekitar toko ini telah ramai oleh kerumunan orang yang tengah menyaksikan proses pembuatan kue mochi yang begitu atraktif. Secara bergantian, para pegawai toko bergotong royong membuat kue mochi yang dibuat dengan bahan dasar dari tepung beras.

Tampaknya ini adalah toko mochi yang terkenal di Kota Nara. Terlihat dari kerumunan orang dan para jurnalis yang sibuk meliput proses pembuatan kue mochi di toko ini. Begitu selesai, kue mochi yang baru dibikin langsung habis diborong oleh orang-orang yang membeli kue dengan antusias. Selain rasanya yang enak, tampaknya banyak orang yang tertarik untuk membeli karena ikut melihat proses pembuatan kue secara langsung.

Barangkali ini yang disebut sebagai ekonomi pengalaman atau experience economy. Toko kue Nakatanido tidak hanya sekedar menjual kue mochi, tetapi lebih dari itu juga menawarkan pengalaman yang pastinya membekas di benak orang-orang yang berkunjung ke toko ini. Hal ini setidaknya menjadi sebuah nilai tambah yang memperkaya pengalaman masyarakat yang kebetulan berkunjung ke Kota Nara. Selain itu, toko ini juga memperkaya karakter Kota Nara yang merupakan salah satu pusat bagi tujuan wisata spiritual dan budaya yang terkenal di Jepang.

Read Full Post »

Taman Kota di Nara

Tidak terlalu jauh dari Kuil Todaiji, terdapat sebuah taman kota yang sangat luas. Dikenal dengan nama Nara Park, taman ini merupakan sebuah lapangan terbuka yang terletak di kaki Gunung Wakakusa. Disekeliling Nara Park, kita bisa menikmati teduhnya pepohonan yang rindang. Ketika saya datang ke taman ini, sekelompok anak muda dari Osaka tengah menyelenggarakan sebuah festival musik yang menampilkan pertunjukan beberapa kelompok band yang rata-rata terdiri dari para pemain yang masih berstatus mahasiswa.

Di taman ini, kawanan kijang dibiarkan hidup bebas. Berbaur dengan masyarakat yang datang untuk menikmati waktu luang mereka. Barangkali inilah fungsi dari sebuah taman kota. Sebuah ruang terbuka hijau yang juga berfungsi sebagai ruang sosial dan budaya, selain sebagai ruang konservasi lingkungan dan hewan-hewan liar. Sungguh beruntung benar warga kota Nara memiliki taman ini. Menurut saya, keberadaan taman ini juga ikut meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat karena memiliki sebuah ruang terbuka hijau yang memungkinkan mereka untuk saling berinteraksi dan berekspresi secara bebas.

Di Indonesia, hanya sedikit kota yang memiliki ruang terbuka hijau seperti Nara Park. Kalaupun ada, tidak semua bisa diakses oleh publik secara terbuka. Yang paling terkenal mungkin Kebun Raya Bogor yang memiliki koleksi tanaman tropis yang luasnya kurang lebih 80 hektar dan memiliki kurang lebih 15.000 jenis pohon dan tumbuhan. Di Bandung ada Taman Hutan Raya Juanda (THR Juanda) yang terletak di daerah Dago Pakar. Selain itu ada juga Taman Kota Babakan Siliwangi yang sekarang tengah menjadi sumber polemik karena konon akan dipugar menjadi kompleks restoran. Suatu saat, barangkali pemerintah di Indonesia perlu untuk memikirkan fasilitas untuk warga berupa taman kota yang teduh seperti di Nara.

Read Full Post »

Read Full Post »

Beberapa hari setelah tiba di Osaka, saya menghubungi Shoko Nakata untuk mengumpulkan beberapa informasi yang saya perlukan selama tinggal di Osaka. Shoko adalah mahasiswa yang pernah tinggal di Common Room selama satu tahun ketika masih menjadi mahasiswa di Universitas Tenri. Selama tinggal di Bandung, ia belajar di Universitas Padjadjaran untuk mempelajari Bahasa Indonesia. Rupanya Shoko tinggal di kota Nara yang terletak tidak terlalu jauh dari Osaka. Jarak kota Nara dengan Shijonawate sekitar 30 menit dengan menggunakan mobil, sehingga kami bisa bertemu dengan mudah.

Sesuai dengan rencana, pada hari Minggu saya dijemput untuk berkunjung ke kota Nara. Kami kemudian berangkat ke kota Nara bersama dengan Roni, satu orang teman yang telah bekerja di Jepang selama kurang lebih 3 tahun. Selama di perjalanan, ia banyak menceritakan pengalamannya selama bekerja di Jepang. Menurutnya ada banyak pekerja Indonesia yang bekerja di Jepang secara ilegal. Kebanyakan adalah para perantau yang ingin mengadu nasib di Jepang. Walaupun tidak semua mendapatkan pekerjaan yang layak, sebagian dari mereka merasa situasinya relatif lebih baik dibandingkan dengan situasi di Indonesia. Sebagian diantara mereka konon mendapatkan pekerjaan melalui jaringan Yakuza, semacam kelompok mafia yang memiliki jaringan yang cukup luas di beberapa kota di Jepang.

Begitu sampai kota Nara, kami langsung menuju ke Suzaku Gate, yang dulunya merupakan pintu gerbang utama untuk masuk ke kota ini. Menurut beberapa informasi, Kota Nara adalah salah satu kota Kerajaan Jepang yang tertua sebelum kemudian dipindahkan ke Kyoto dan Tokyo. Kota ini dibangun sekitar 1300 tahun yang lalu di bawah kekuasaan Ratu Gemmei, yang menandai dimulainya periode Nara dalam perkembangan sejarah Kerajaan Jepang. Sementara itu, Suzaku Gate merupakan gerbang utama kota Nara yang saat ini merupakan salah satu situs bersejarah yang dilindungi oleh UNESCO. Ketika kami tiba, sekelompok turis tengah mengamati situasi sambil mendengarkan beberapa penjelasan dari petugas yang ada di sini. Gerbang ini tampak megah dan sepertinya masih dalam proses pemugaran. Konon kabarnya di sekitar lokasi Suzaku Gate, ada banyak ditemukan berbagai artifak peninggalan kuno kota Nara.

Setelah berkunjung ke Suzaku Gate, Shoko kemudian mengajak saya untuk mengunjungi Kuil Todaiji yang juga merupakan sebuah situs bersejarah yang dilindungi oleh UNESCO. Kuil ini merupakan salah satu pusat tujuan para wisatawan yang berkunjung ke Nara. Di sekitar Kuil Todaiji, ada beberapa kuil dan situs peribadatan agama Buddha, yang juga dipenuhi oleh sekawanan rusa yang dibiarkan untuk berkeliaran secara bebas. Kelihatannya para wisatawan yang berkunjung ke tempat ini memiliki tujuan yang sangat beragam. Ada sekelompok wisatawan yang datang untuk berdoa dan melakukan ritual peribadatan, sementara itu ada juga yang hanya datang untuk menikmati pemandangan di sekitar kuil ini. Namun begitu, keberadaan kuil ini tampaknya sangat penting bagi kota Nara. Berbagai kesibukan yang ada di sekitar kuil ini bukan saja memberikan makna spiritual bagi kota Nara, tetapi juga memberikan kontribusi ekonomi bagi wisata spiritual, sejarah dan peninggalan budaya, serta seni maupun arsitektur tradisional.

Read Full Post »