Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘History’

Benteng Osaka

benteng_osaka

Tempat ini mungkin merupakan sebuah situs yang menarik bagi mereka yang memiliki minat akan perkembangan sejarah dan kebudayaan Kerajaan Jepang. Terletak tepat di tengah taman kota yang sangat luas, Benteng Osaka berdiri tegak mengitari bangunan istana yang dibangun oleh Hideyosi Toyomi pada sekitar tahun 1583 sampai dengan tahun 1598. Dalam perkembangan sejarah Kerajaan Jepang, Hideyosi Toyomi dan Benteng Osaka memiliki peran yang penting dalam proses penyatuan Kerajaan Jepang yang dimulai sejak awal abad ke-16.

Saya mengunjungi tempat ini bersama Shoko Nakata. Sebelumnya kami telah memiliki rencana untuk bertemu dengan beberapa mahasiswa Jepang dan Indonesia, termasuk beberapa orang Indonesia yang saat ini tengah bekerja di Jepang. Beberapa diantaranya adalah Ernita Artha, Rahma Novita, Roni dan Arisman. Selain itu, dalam kesempatan ini kami juga bertemu dengan Ibu Yumi Sugahara yang merupakan seorang staff pengajar di Universitas Tenri. Selain bekerja sebagai dosen, ia juga seorang ahli sejarah yang banyak melakukan penelitian tentang perkembangan agama Islam pada abad ke-19 di Indonesia.

Setelah bertemu dengan para mahasiswa dari Jepang dan Indonesia, kami kemudian berjalan menuju ke Benteng Osaka melalui jalan masuk dari Stasiun Osaka-jo koen. Di sepanjang perjalanan, saya menyaksikan banyak orang yang tengah beraktifitas di sekitar Taman Benteng Osaka. Di akhir pekan, tempat ini memang biasanya sibuk oleh berbagai aktifitas warga kota Osaka maupun para wisatawan yang melancong ke kota ini. Di salah satu pojok taman, kami menyaksikan kerumunan orang yang tengah berbaris tertib untuk menyaksikan sebuah konser musik yang tampaknya akan berlangsung dengan meriah. Sambil menikmati suasana di Taman Benteng Osaka, saya menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan Ibu Yumi Sugahara.

Ibu Yumi Sugahara memberitahu bahwa selama beberapa waktu terakhir ia sering bepergian ke Indonesia untuk melakukan penelitian mengenai perkembangan agama Islam. Terakhir ia berkunjung ke Aceh untuk melakukan penelitian mengenai perkembangan agama Islam di sana. Saat ini, ia tengah mencoba untuk mempelajari beberapa dokumen yang berisi informasi mengenai perkembangan agama Islam yang ditulis dengan menggunakan teks bahasa Arab. Menurutnya, dokumen yang mencatat perkembangan agama Islam pada abad ke-19 di Indonesia kebanyakan menggunakan bahasa Belanda. Karena itu, Ibu Yumi merasa perlu untuk melakukan perbandingan dengan mempelajari dokumen yang menggunakan teks Arab, agar ia dapat memahami gambaran yang ada secara lebih utuh.

Begitu tiba di dalam Benteng Osaka, kami kemudian memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Sambil makan siang, kami melanjutkan pembicaraan mengenai berbagai situasi yang saat ini tengah berkembang di Jepang dan Indonesia. Sebagian kelompok masyarakat di Jepang dan Indonesia banyak yang merasa khawatir akan dampak dari resesi global yang saat ini tengah terjadi. Menurut beberapa informasi, resesi global saat ini sudah mulai mempengaruhi situasi ekonomi di kedua negara meskipun dalam skala yang berbeda. Namun begitu, sampai saat ini belum banyak orang yang dapat memprediksi apa yang akan terjadi apabila resesi global benar-benar menghantam situasi perekonomian di Asia. Tampaknya banyak pihak yang masih bertanya-tanya karena memang belum banyak orang yang merasakan dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.

Selepas makan siang, kami kemudian berjalan menuju Istana Osaka yang saat ini telah beralih fungsi menjadi museum yang memamerkan beberapa artifak sejarah peninggalan Hideyosi Toyomi. Diperkirakan lahir pada tanggal 26 Maret 1537, Hideyosi Toyomi dikenal sebagai figur penting yang merintis proses penyatuan Kerajaan Jepang. Terlahir dari keluarga petani yang miskin, ia memiliki beberapa nama sampai kemudian dikenal dengan nama Hideyosi Toyomi. Menurut informasi, sejak kecil ia kerap berkelana dan berganti pekerjaan sampai kemudian menjadi pengikut klan Oda yang dipimpin oleh Nobunaga Oda pada tahun 1557.

Di dalam Museum Istana Osaka, dipamerkan berbagai artifak peninggalan serta diorama yang menceritakan kisah kehidupan Hideyosi Toyomi yang meninggal pada tanggal 18 September 1598. Ketika berada di dalam istana, saya sempat menyaksikan pemandangan kota Osaka dari puncak istana yang terletak di lantai 8. Selain itu, saya juga menyempatkan diri untuk menyaksikan berbagai artifak peninggalan sejarah yang ditampilkan di setiap lantai. Salah satu materi yang menarik perhatian saya adalah miniatur pertempuran “The Summer War in Osaka” yang terjadi pada tahun 1615. Peristiwa ini merupakan momentum runtuhnya klan Hideyosi Toyomi, setelah anaknya yang bernama Hideyori Toyotomi gagal mempertahankan Istana Osaka dari serbuan Ieyasu Tokugawa, figur sentral klan Tokugawa yang kemudian melanjutkan proses penyatuan Kerajaan Jepang.

Setelah berkeliling di Museum Istana Osaka, saya kemudian bertemu dengan Farhan Helmy. Ia adalah seorang peneliti lingkungan hidup yang saat ini tengah melanjutkan studinya di Tokyo. Bersama dengan teman-teman yang lain, kami kemudian berbincang-bincang sambil beristirahat di pojok Benteng Osaka. Tak berapa lama, kami kemudian memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Saya dan Farhan kemudian melanjutkan perbincangan sambil menyusuri pusat keramaian di kota Osaka. Beberapa hal yang menjadi bahan pembicaraan kami waktu itu adalah berbagai persoalan sosial dan lingkungan yang ada di Indonesia. Terkait dengan perkembangan situasi saat ini, menurutnya pemerintah Indonesia harus dapat menentukan sikap dan kebijakan yang jelas karena berbagai kebijakan yang dikembangkan oleh Indonesia saat ini tidak dapat dipisahkan dari konstelasi politik global.

Satu hal yang ia contohkan adalah kebijakan pembangunan kota yang memperhatikan aspek pelestarian lingkungan hidup sebagai strategi untuk mengedepankan proses pembangunan yang berkelanjutan. Saat ini, terkait dengan isu pemanasan global seluruh warga dunia harus mulai memikirkan solusi bersama untuk mengatasi persoalan ini. Salah satunya adalah dengan mengembangkan kebijakan yang memperhatikan aspek pelestarian lingkungan hidup sebagai sebuah strategi yang mengedepankan proses pembangunan yang berkelanjutan. Dalam hal ini, proses perubahan global akan sulit dicapai apabila tidak didorong melalui perubahan yang terjadi di tingkat lokal. Menurut Farhan setiap orang saat ini dapat berkontribusi untuk menghentikan proses pemanasan global, tak terkecuali bagi masyarakat yang tinggal di kota Bandung.

Tak terasa hari sudah mulai malam. Kami sudah menghabiskan waktu selama beberapa jam dan membicarakan banyak hal. Saya kemudian memutuskan untuk kembali ke Shinobugaoka. Sementara itu, Farhan kembali ke apartemennya. Besok malam ia harus kembali ke Tokyo, sementara saya masih akan melanjutkan aktifitas saya di Osaka. Kami berjanji untuk terus bertukar informasi mengenai kegiatan masing-masing. Sebelum berpisah, Farhan juga menyampaikan pendapat bahwa kelihatannya hubungan kerjasama antar kelompok masyarakat di Jepang dan Indonesia perlu terus dikembangkan. Untuk hal ini, ia akan mengupayakan pertemuan dengan perwakilan pemerintah Indonesia di Osaka. Barangkali dengan melibatkan perwakilan pemerintah, usaha untuk menjalin hubungan kerjasama antara kelompok masyarakat di Jepang dan Indonesia dapat terwujud.

Advertisements

Read Full Post »

Sementara Hisako Hara membantu persiapan workshop Paramodel, saya dan Yap Siau Bin mengunjungi ruang galeri Suntory Museum untuk menyaksikan pameran “The Springtime of Russian Avant-Garde”. Kehadiran para seniman avant-garde Russia nampaknya memang melahirkan dampak tersendiri bagi perkembangan seni modern di Eropa. Lahir di awal abad ke-20, gerakan seniman avant-garde Russia juga sempat diwarnai oleh era Revolusi Russia yang terjadi pada tahun 1917. Lebih jauh, para seniman avant-garde Russia kemudian ikut melahirkan gerakan suprematisme, fauvisme dan konstruktivisme, yang sebelumnya mengadopsi gerakan kubisme, futurisme dan neo-primitivisme. Pada tahun 1920, sebagai dampak dari kebijakan ekonomi baru di Russia, para seniman avant-garde Russia mulai mendapat kritik yang tajam. Karya mereka dianggap terlalu mengedepankan kepentingan individu.

Dalam catatan pengantar pameran ini, selanjutnya prinsip – prinsip konstruktivisme mulai diaplikasikan ke dalam karya keramik, poster, fashion dan arsitektur. Sementara itu, para seniman avant-garde Russia kemudian banyak yang diusir dan mengungsi, namun kemudian mendapat pengakuan di beberapa negara di luar Russia. Wassily Kandinsky diangkat menjadi profesor di Bauhaus; Marc Chagall dan Aleksandra Ekster mengungsi ke Paris, sementara David Burliuk mengungsi ke Jepang sebelum kemudian hijrah ke Amerika. Pada tahun 1932, Central Committee of the Communist Party yang pada saat itu dipimpin oleh Joseph Stalin akhirnya memutuskan untuk membubarkan semua organisasi seni dan menentukan bahwa realisme sosial menjadi satu-satunya prinsip penciptaan dalam karya seni.

Saya merasa keputusan ini juga melahirkan dampak dan dinamika tersendiri dalam perkembangan seni rupa di Indonesia. Pada tahun 1938, Sudjojono dan Agus Djaja mendirikan Persatuan Ahli Gambar Indonesia (PERSAGI), dan melahirkan corak ekspresi estetik yang kental dengan isu sosial politik. Sanento Yuliman mencatat bahwa gerakan seni yang lahir setelah era ini merupakan identifikasi dari perjuangan bangsa, ditengah ketiadaan pranata penyangga kecuali pelukis dan perkumpulan pelukis. Pergolakan situasi militer, politik, dan sosial, serta pandangan seni lukis adalah ungkapan diri dan kehidupan, melahirkan seni lukis yang emosional, tegang, dinamis, dan mencitrakan dunia sekeliling.

Sementara itu, pemikiran yang spesifik di bidang estetika rupa-rupanya juga bergolak di Universitaire Leergang voor Takenleraren (Sekolah Guru Gambar) di Bandung, yang didirikan pada tahun 1947. Di sini seorang seniman Belanda yang bernama Ries Mulder mulai memperkenalkan gaya abstrak-geometris, yang mengadopsi gerakan kubisme dan prinsip estetika yang dikembangkan oleh Ecole de Paris. Diantara mahasiswa yang belajar di sana adalah Ahmad Sadali, Srihadi Sudarsono, Mochtar Apin, But Muchtar, Popo Iskandar dan Sudjoko. Karya-karya awal mereka pada saat itu memperlihatkan pengaruh kuat kubisme gaya Perancis.

Selanjutnya pada sekitar tahun 1963-1965 situasi politik di Indonesia mulai memanas. Gerak-gerik seniman Bandung mulai dibatasi oleh aktifitas seniman yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) dan faksi-faksinya yang mendukung prinsip realisme sosial. Didirikan pada tanggal 17 Oktober 1950, LEKRA merupakan lembaga yang disegani karena dianggap dekat dan mendukung kebijakan pemerintah yang berkuasa pada saat itu. Sampai kemudian terjadi proses peralihan kekuasaan politik pada tahun 1965, yang menyebabkan ruang gerak seniman Bandung kembali terbuka. Di era ini mulai muncul anggapan bahwa seni lukis Indonesia sudah mendapatkan hak asasinya yang paling murni. Para pelukis sudah kembali kepada seni lukis, dan bukan lagi “anak politik”.

Dalam buku yang berjudul Nusa Jawa: Silang Budaya (1996), Denys Lombard menguraikan catatan sebagai berikut:

“Kendati demikian, pada tahun 1963 keadaan memburuk. Konflik pecah dengan adanya “Manifesto Kebudayaan” (Manikebu), yang ditandatangani oleh sejumlah pengarang dan beberapa pelukis. Para partisan “l’art pour l‘art” menyatakan perang terhadap para seniman Lekra yang kekuasaannya mereka takuti. Pada tahun 1965-1966, lengkaplah sudah kemenangan mereka. Henk Ngantung, waktu itu walikota Jakarta, disingkirkan, Hendra dipenjara. Aliran realis di Yogyakarta dibubarkan; sementara di Jakarta dan Bandung, aliran nonfiguratif menegakan kepala.”

Ketika keluar dari ruang pameran, saya kemudian tertegun membayangkan sebuah periode yang krusial dalam perkembangan seni modern, dimana prinsip estetik individu bertemu dengan kepentingan ideologi negara yang diwarnai dengan konflik politik yang begitu dramatis. Barangkali bahkan sampai hari ini relasi antara seni dengan politik, atau bahkan hubungan antara seniman dengan masyarakatnya merupakan persoalan yang senantiasa dipenuhi dengan pertanyaan, ketegangan dan kecurigaan.

Prinsip kebebasan dan kemerdekaan individu akan terus diuji keberadaannya oleh semangat zaman. Di beberapa belahan dunia, hal ini bahkan berujung kepada konflik yang memakan banyak korban. Sampai kapan prinsip ini dapat bertahan saya kira akan sulit menjawabnya. Namun saya merasa bahwa kemerdekaan individu juga merupakan pondasi yang penting bagi otonomi masyarakat sipil. Dalam hal ini, memiliki imajinasi saya rasa merupakan hak dasar yang keberadaannya tidak dapat direbut oleh siapapun. Tak terkecuali oleh kepentingan ekonomi maupun politik atau bahkan ideologi negara.

Read Full Post »

“Here we have seen this process at work in the description of Zipangu, the ‘country of gold’, of the kingdom of Presenter John, ‘floating with milk and honey,’ and of the ‘strange lands’ infested with strange human forms. We have seen it in the depiction of a paradise where people sip nectar and of a barbarian land where cannibalism is rampant”

Kenji Yoshida (Imagined Asia, Imagined Europe, 2008)

Setelah tertunda selama beberapa waktu, akhirnya saya berkesempatan untuk mengunjungi pameran yang berjudul Self and Other: Potraits from Asia and Europe yang diselenggarakan di The National Art Museum, Osaka. Sesuai dengan judulnya, pameran ini menampilkan berbagai karya rupa yang merepresentasikan jejak pengalaman dari pola interaksi antara bangsa-bangsa di Asia dan Eropa. Selain memamerkan sejumlah lukisan, pameran ini juga menampilkan berbagai macam artifak visual semisal gambar, foto, poster, kain batik, kerajinan, ilustrasi, video, dsb.

Dalam sebuah pengantar yang ditulis oleh Yukika Kawaguchi, pengertian potret dalam bahasa Jepang sepadan dengan kata “shozo“. Artinya kira-kira kemiripan atau sebuah gambar. Dalam kaitan ini, kata potret kemudian juga dapat dimaknai sebagai sebuah gambaran yang mirip atau mencitrakan seseorang yang berasal dari dunia nyata dan bukan merupakan karakter rekaan. Pengertian ini juga terkait dengan kata “katadoru” (model atau duplikasi) yang juga dapat dimaknai sebagai sebuah gambar atau pencitraan, yang berakar dari kata “kataru” (cerita atau kabar). Dalam hal ini, “kataru” juga menyiratkan makna cerita sebagai sebuah kisah nyata yang bukan rekaan, sehingga juga terkait dengan pengertian yang berhubungan dengan representasi dari kenyataan. Dalam pengertian yang paling umum, kita kemudian juga dapat memaknai shozo atau potret sebagai sebuah gambaran dari kehadiran orang-orang dari dunia nyata yang disampaikan melalui medium yang beragam.

Menurut informasi, materi dari pameran ini dikumpulkan melalui program kolaborasi yang melibatkan museum seni dan budaya dari sekitar 18 negara anggota Asia-Europe Museum Network (ASEMUS). Saking banyaknya koleksi yang dipamerkan, kali ini kegiatan diselenggarakan di dua tempat, yaitu di National Museum of Ethnology dan The National Art Museum, Osaka. Setelah itu pameran ini rencananya akan berkeliling ke beberapa museum di Jepang. Mudah-mudahan suatu saat pameran ini juga dapat diselenggarakan di Indonesia.

Potret barangkali adalah sebentuk ekspresi yang secara gamblang menggambarkan persepsi manusia akan berbagai pengalaman, ingatan, imajinasi dan situasi lingkungan yang ada disekitar mereka. Merujuk pada pengertian yang luas tentang potret, pameran ini tampaknya memang berupaya untuk menelusuri catatan pengalaman yang menggambarkan pola hubungan antar bangsa di Asia dan Eropa dalam rentang waktu yang sangat panjang. Mulai dari berbagai bentuk pencitraan manusia sebelum bangsa-bangsa di Asia dan Eropa berinteraksi, sampai pada karya-karya yang merepresentasikan pola hubungan antar bangsa di era (post) modern yang begitu kompleks.

Dalam pameran ini saya juga berkesempatan untuk melihat karya Raden Saleh secara langsung. Dua diantaranya adalah lukisan potret A.H.W. Baron de Kock dan Elisabeth Antoinette yang dipinjam dari koleksi Tropenmuseum, Belanda. Berdasarkan informasi yang ada, keduanya dilukis pada tahu 1856. Dalam catatan yang ditulis oleh Denys Lombard (Nusa Jawa: Silang Budaya, 1996), sejak sekitar tahun 1629 lukisan merupakan alat transaksi yang penting bagi para pelaut Eropa untuk menjalin hubungan dengan para penguasa setempat di wilayah Nusantara. Ia juga mencatat bahwa Raden Saleh sempat menjadi penanggung jawab galeri potret resmi (Landsverzameling), yang memberinya kesempatan untuk melukis para Gubernur Jendral seperti Johanes van den Bosch, Jean Christian Baud dan bahkan Jendral Maarschalk H.W. Daendles.

Saya rasa pameran ini telah berhasil membawa khazanah pengetahuan seni dan budaya visual ke tataran yang sangat luas. Bukan saja memaparkan berbagai bentuk representasi visual dari hubungan bangsa-bangsa di Asia dan Eropa, pameran ini juga mengajak kita untuk melihat kembali berbagai lembar catatan yang merupakan jejak dari pengalaman bersama (shared experience) dan pengetahuan yang berasal dari interaksi antar peradaban yang begitu kaya. Hal ini setidaknya memperlihatkan bagaimana pengetahuan seni juga terkait dengan mekanisme produksi pengetahuan yang dapat menggambarkan berbagai aspek yang terkait dengan peradaban manusia secara rinci.

Pameran ini menampilkan berlapis-lapis catatan ingatan dari hubungan bangsa-bangsa di Asia dan Eropa, mulai dari persoalan kesejarahan, politik identitas, aktifitas perdagangan, penyebaran ilmu pengetahuan, perkembangan budaya populer, sampai pada akar dari strategi representasi dan pencitraan yang menggambarkan pola interaksi dan negosiasi antara “self” dan “the other” yang tampaknya tidak akan pernah berkesudahan. Satu hal yang tampaknya absen dari proses pembacaan ini adalah pergulatan ideologi dan kepentingan politik di Asia dan Eropa, yang sebetulnya tidak kalah sengit dan penuh dengan konflik yang begitu riuh rendah.

Read Full Post »

Beberapa hari setelah tiba di Osaka, saya menghubungi Shoko Nakata untuk mengumpulkan beberapa informasi yang saya perlukan selama tinggal di Osaka. Shoko adalah mahasiswa yang pernah tinggal di Common Room selama satu tahun ketika masih menjadi mahasiswa di Universitas Tenri. Selama tinggal di Bandung, ia belajar di Universitas Padjadjaran untuk mempelajari Bahasa Indonesia. Rupanya Shoko tinggal di kota Nara yang terletak tidak terlalu jauh dari Osaka. Jarak kota Nara dengan Shijonawate sekitar 30 menit dengan menggunakan mobil, sehingga kami bisa bertemu dengan mudah.

Sesuai dengan rencana, pada hari Minggu saya dijemput untuk berkunjung ke kota Nara. Kami kemudian berangkat ke kota Nara bersama dengan Roni, satu orang teman yang telah bekerja di Jepang selama kurang lebih 3 tahun. Selama di perjalanan, ia banyak menceritakan pengalamannya selama bekerja di Jepang. Menurutnya ada banyak pekerja Indonesia yang bekerja di Jepang secara ilegal. Kebanyakan adalah para perantau yang ingin mengadu nasib di Jepang. Walaupun tidak semua mendapatkan pekerjaan yang layak, sebagian dari mereka merasa situasinya relatif lebih baik dibandingkan dengan situasi di Indonesia. Sebagian diantara mereka konon mendapatkan pekerjaan melalui jaringan Yakuza, semacam kelompok mafia yang memiliki jaringan yang cukup luas di beberapa kota di Jepang.

Begitu sampai kota Nara, kami langsung menuju ke Suzaku Gate, yang dulunya merupakan pintu gerbang utama untuk masuk ke kota ini. Menurut beberapa informasi, Kota Nara adalah salah satu kota Kerajaan Jepang yang tertua sebelum kemudian dipindahkan ke Kyoto dan Tokyo. Kota ini dibangun sekitar 1300 tahun yang lalu di bawah kekuasaan Ratu Gemmei, yang menandai dimulainya periode Nara dalam perkembangan sejarah Kerajaan Jepang. Sementara itu, Suzaku Gate merupakan gerbang utama kota Nara yang saat ini merupakan salah satu situs bersejarah yang dilindungi oleh UNESCO. Ketika kami tiba, sekelompok turis tengah mengamati situasi sambil mendengarkan beberapa penjelasan dari petugas yang ada di sini. Gerbang ini tampak megah dan sepertinya masih dalam proses pemugaran. Konon kabarnya di sekitar lokasi Suzaku Gate, ada banyak ditemukan berbagai artifak peninggalan kuno kota Nara.

Setelah berkunjung ke Suzaku Gate, Shoko kemudian mengajak saya untuk mengunjungi Kuil Todaiji yang juga merupakan sebuah situs bersejarah yang dilindungi oleh UNESCO. Kuil ini merupakan salah satu pusat tujuan para wisatawan yang berkunjung ke Nara. Di sekitar Kuil Todaiji, ada beberapa kuil dan situs peribadatan agama Buddha, yang juga dipenuhi oleh sekawanan rusa yang dibiarkan untuk berkeliaran secara bebas. Kelihatannya para wisatawan yang berkunjung ke tempat ini memiliki tujuan yang sangat beragam. Ada sekelompok wisatawan yang datang untuk berdoa dan melakukan ritual peribadatan, sementara itu ada juga yang hanya datang untuk menikmati pemandangan di sekitar kuil ini. Namun begitu, keberadaan kuil ini tampaknya sangat penting bagi kota Nara. Berbagai kesibukan yang ada di sekitar kuil ini bukan saja memberikan makna spiritual bagi kota Nara, tetapi juga memberikan kontribusi ekonomi bagi wisata spiritual, sejarah dan peninggalan budaya, serta seni maupun arsitektur tradisional.

Read Full Post »

“When Time shall have softened passion and prejudice,
when Reason shall have stripped the mask from misinterpretation,
then Justice, holding evenly her scales, will require
much of past censure and praise to change places.”

Dr. Radha binod Pal

Uraian di atas terpampang di atas permukaan sebuah batu granit yang menampilkan sesosok figur dengan ekspresi wajah yang begitu lembut dan menyejukkan. Dr Radha pinod Pal adalah seorang hakim yang menjadi perwakilan India ketika bertugas dalam sebuah pengadilan militer di kota Tokyo pada bulan Mei 1948. Dalam persidangan yang dikenal luas sebagai proses Pengadilan Tokyo (Tokyo Trial), Dr. Radha binod Pal tampil sebagai figur yang bekerja keras untuk meredam hasrat balas dendam tentara sekutu dan mengupayakan koreksi atas perspektif yang bias mengenai fakta sejarah di seputar pertempuran antara bala tentara Kerajaan Jepang dengan pasukan sekutu di Perang Dunia II.

Pernyataan dari Dr. Radha binod Pal terpampang jelas dalam sebuah monumen yang didedikasikan untuknya di Kuil Yasukini. Bagi sebagian kalangan masyarakat di Jepang, keberadaan Kuil Yasukuni barangkali merupakan kontroversi yang rumit terkait dengan keberadaan para penjahat perang yang ikut dimakamkan di kuil ini. Dalam beberapa kesempatan, kunjungan para menteri dan perdana menteri dari kabinet pemerintahan Jepang juga kerap melahirkan gelombang protes, baik oleh sebagian masyarakat di Jepang maupun dari beberapa negara semisal Cina, Korea Utara dan Korea Selatan. Keberadaan Kuil Yasukuni juga sering dianggap sebagai sebuah upaya revisi sejarah dan glorifikasi dari perilaku militer bala tentara Kerajaan Jepang yang agresif di masa lalu.

Ketika saya berkunjung ke kuil ini, saya merasakan adanya kegamangan yang luar biasa. Meskipun masih merupakan sumber kontroversi bagi sebagian masyarakat di Jepang, tampaknya hal ini tidak dapat mencegah kedatangan para warga sepuh yang beragama Shinto untuk datang dan berdoa bagi mereka yang telah berguguran dalam medan perang. Di sekeliling kuil ini juga terdapat beberapa patung dan monumen yang juga didedikasikan untuk para pejuang dan korban perang. Selain itu terdapat juga museum yang dibangun dengan megah diantara pepohonan dan taman kota yang sejuk. Saya merasa Kuil Yasukini adalah sebuah monumen yang menggambarkan kegamangan manusia akan kekejaman perang dan sejarah yang suram. Seperti yang diuraikan oleh Dr. Radha binod Pal, tampaknya hanya waktu yang dapat menjernihkan hasrat dan prasangka di seputar kontroversi mengenai keberadaan kuil ini.

Sebelum datang ke Kuil Yasukini, saya terlebih dahulu berkunjung ke Kandada dan bertemu dengan Masato Nakamura. Ia adalah seorang seniman yang merupakan salah satu pendiri dari CommandN, sebuah organisasi seniman yang didirikan di Tokyo pada tahun 1998. Mereka termasuk pelopor bagi perkembangan kelompok seniman yang mengembangkan berbagai proyek dan aktifitas kolaborasi dengan komunitas seniman lokal dan masyarakat umum di kota Tokyo. Kandada merupakan sebuah ruang serba guna yang kerap digunakan untuk menyelenggarakan berbagai proyek dan kegiatan CommandN. Selain banyak mengembangkan kegiatan di Tokyo, CommandN juga kerap mengembangkan proyek di kota lain dan berkolaborasi dengan penduduk setempat seperti di kota Kanazawa dan berbagai program di Himming Art Center.

Hari ini saya juga berkunjung ke NLI Research Institute untuk bertemu dengan Mitsuhiro (Mitch) Yoshimoto. Di NLI Research Institute, Mitch bekerja sebagai direktur untuk departemen Arts and Cultural Projects for Social Research Group. NLI Research Institute adalah sebuah lembaga riset yang didirikan pada bulan Juli 1988 oleh Nippon Life Insurance Company (NLI). Lembaga ini membawahi beberapa departemen riset yang bertanggung jawab untuk mengembangkan kebijakan dan rekomendasi bagi berbagai perusahaan maupun lembaga pemerintah. Menurut Mitch, saat ini berbagai kajian di bidang seni dan kebudayaan sangat diperlukan untuk memberikan gambaran yang berguna bagi pengembangan strategi dan kebijakan publik. Berbagai hasil riset dari NLI Research Institute kerap dimanfaatkan sebagai bahan referensi bagi berbagai institusi keuangan maupun pemerintahan. Salah satunya adalah pemerintah Yokohama yang bekerjasama dengan NLI Research Institute dalam mengembangkan strategi dan kebijakan Creative City Yokohama.

Setelah berbincang-bincang di NLI Research Institute, saya kemudian beranjak ke The National Museum of Art, Tokyo dan bertemu dengan Reiko Nakamura, asisten kurator untuk departemen seni lukis dan seni patung. Kebetulan di museum ini sedang diselenggarakan pameran Emotional Drawing yang menampilkan karya gambar dari 16 seniman yang berasal dari Eropa, Asia dan Timur Tengah. Diantara para peserta ada dua orang seniman Indonesia, yaitu S. Teddy D. dan Ugo Untoro. Keduanya berasal dari Yogyakarta. Reiko kemudian mengajak saya untuk mengamati koleksi museum yang saat itu tengah memamerkan kumpulan karya fotografi, lukisan dan patung yang mencakup karya para seniman yang berasal dari periode awal 1900 s/d 1980-an. Mulai dari karya seni lukis tradisional, sampai pada lukisan dan patung modern yang bergaya naturalisme, realisme, serta surealisme, kubisme, ekspresionisme dan abstrak yang dibagi ke dalam kategori waktu yang berbeda.

Dalam kesempatan ini saya menemukan kemiripan perkembangan seni modern di Jepang dan Indonesia. Khusus untuk periode 1950 s/d 1980 tampaknya ada kecenderungan perkembangan seni modern di Jepang dan Indonesia didominasi oleh kehadiran karya seni modern yang bersandar pada kanon estetika yang disebarkan oleh institusi seni di Eropa dan Amerika. Menurut Reiko, pada periode ini ada banyak seniman di Jepang yang mendapat kritik cukup keras karena dianggap mengabaikan berbagai persoalan sosial yang terjadi di sekeliling mereka. Hal ini relatif mirip dengan apa yang terjadi di Indonesia dalam kurun waktu periode yang sama. Di kalangan sebagian kritikus, ada kritik yang menyatakan bahwa institusi seni modern yang berkembang pada saat itu secara sengaja menyebarkan paham seni modern barat di Asia sebagai sebuah simulakra untuk mengalihkan perhatian para seniman dari berbagai persoalan yang ada di sekeliling mereka. Hal ini dikembangkan sekaligus sebagai alat untuk menangkal pengaruh politik dan ideologi komunis serta karya-karya realisme sosial yang pada saat itu dianggap sebagai alat propaganda politik kelompok sosialis di Asia.

Read Full Post »