Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Snapshot’ Category

Let Us Be Remembered

Let Us Be Remembered

Advertisements

Read Full Post »

Displacements

Displacements

Read Full Post »

Red Nodes

Red Nodes

Read Full Post »

Osaka Drift | Part One

Read Full Post »

brut

Setelah melakukan observasi di kota Osaka, beberapa hari setelahnya saya dan Hisako Hara berkunjung ke daerah Omihachiman. Terletak di pinggir kota Kyoto, Omihachiman adalah sebuah kota kecil yang berdiri diantara kaki pegunungan yang sejuk. Saya berangkat sendirian dari Osaka dan bertemu dengan Hisako Hara di Stasiun Omihachiman. Dari stasiun ini, kami kemudian melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bus yang langsung membawa kami ke sebuah daerah pemukiman tua yang terletak tepat di kaki Gunung Hachiman.

Di Omihachiman, kami kemudian menyusuri daerah pemukiman yang masih dipenuhi oleh rumah tradisional Jepang dan beberapa bangunan yang terpengaruh oleh bangunan arsitektur bergaya victorian. Salah satunya adalah sebuah bekas bangunan kantor pos yang saat ini telah beralih fungsi menjadi sebuah museum dan toko barang antik. Disebelahnya, terdapat sebuah pabrik sake dan beberapa bangunan tua yang berfungsi sebagai gudang tempat penyimpanan minuman. Selain daerah pemukiman tua, di wilayah ini juga terdapat beberapa studio keramik, galeri, serta kuil agama Shinto dan Buddha. Tampaknya beberapa bangunan yang ada di wilayah ini merupakan bangunan yang dilestarikan oleh pemerintah setempat karena wilayah ini merupakan salah satu daerah tujuan wisata yang penting di Kyoto.

Kami kemudian melanjutkan perjalanan dengan mengunjungi Gallery No-Ma, yang artinya kira-kira “tanpa batas”. Galeri ini memanfaatkan sebuah rumah tua yang dikelola oleh pemerintah. Di sana kami menyaksikan pameran yang menampilkan beberapa karya seniman Jepang semisal Suzuki Osamu, Shyji Takashi, Ueda Shoji, Mitsuhashi Seiki, Kinoshita Susumu, dan Yohizawa Takeshi. Pameran yang diselenggarakan di dua lokasi yang berbeda ini menampilkan karya keramik, gambar, fotografi, obyek dan instalasi. Salah satu karya yang menarik adalah seri karya fotografi milik Ueda Shoji yang dikenal sebagai figur penting dalam perkembangan fotografi modern di Jepang. Karya lain yang juga menarik adalah karya milik Suzuki Osamu yang menampilkan beberapa karya gambar, instalasi dan sekumpulan perahu yang terbuat dari kardus.

Selain menampilkan karya dari para seniman yang sudah dikenal di Jepang, pameran ini juga menampilkan beberapa karya dari para seniman yang memiliki kebutuhan khusus. Mereka kerap disebut sebagai kelompok “outsider” dalam perkembangan seni rupa di Jepang. Meskipun rata-rata para seniman ini tidak memiliki tujuan yang sama dengan umumnya seniman ketika membuat karya seni, namun karya mereka tetap memiliki kualitas artistik serta menyiratkan energi kreatifitas yang mendalam. Beberapa karya mereka dibangun dengan bahasa visual yang sederhana namun tampak penuh dengan misteri. Dalam pameran ini, beberapa karya dari para seniman yang memiliki kebutuhan khusus ditampilkan oleh Yoshizawa Takeshi, Mitsuhashi Seiki, dan Shyji Takashi.

Selepas berkeliling di daerah Omihachiman, saya dan Hisako Hara kemudian beristirahat sejenak sambil makan siang. Setelahnya, kami kemudian kembali ke stasiun untuk mengunjungi Museum of Modern Art yang terletak di daerah Shiga. Di tengah perjalanan menuju stasiun, saya melihat sekelompok ibu-ibu tengah melukis pemandangan di sekitar kanal yang dulunya kerap digunakan untuk mengangkut bahan-bahan hasil pertanian dan karya kerajinan di daerah Omihachiman. Mereka tampak sangat menikmati suasana di sekitar kanal yang teduh dan dipenuhi oleh pepohonan yang rindang.

Sesampainya di Shiga, kami langsung menuju ke Museum of Modern Art yang juga terletak di pinggiran kota Kyoto. Menurut Hisako Hara, banyak gedung pusat kebudayaan di Jepang yang di bangun di pinggiran kota pada tahun 1970-an. Gedung Museum of Modern Art di Shiga adalah salah satu dari gedung-gedung yang dibangun pada era tersebut. Dalam perjalanan menuju ke daerah Shiga, saya diperkenalkan kepada Kobuki Takafumi, seorang jurnalis yang bekerja di Kyoto. Selanjutnya saya diperkenalkan kepada Akiko Kasuya, yang bekerja sebagai staff pengajar untuk Kyoto City University of Arts.

Sesampainya di museum, kami langsung menuju ke ruang pameran yang menampilkan karya-karya seniman Brut Art. Kebetulan hari ini adalah pembukaan pameran yang secara khusus menampilkan karya para seniman Brut Art koleksi Art Brut Connaissance & Diffusion (ABCD) di Paris. Setelah membaca banyak informasi mengenai gerakan Brut Art selama beberapa tahun ke belakang, akhirnya saya berkesempatan untuk menyaksikan karya para seniman Brut Art yang merupakan sebuah gerakan seni yang cukup penting sejak era 1920-an. Dulu, karya dari para seniman ini kerap tidak dianggap sebagai karya seni sampai kemudian karya-karya mereka ditemukan secara tidak sengaja ketika para senimannya sudah meninggal.

Dalam perkembangan seni modern, karya para seniman Brut Art juga sering dianggap sebagai karya para “outsider”, yang menyempal dari gerakan seni modern mainstream. Kebanyakan dari para seniman Brut Art memang bukan seniman dan sedikit sekali yang memiliki intensi yang sama dengan kebanyakan seniman ketika mereka membuat karya seni. Walaupun begitu, karya-karya para seniman Brut Art tetap diapresiasi secara luas karena dinilai memiliki kualitas artistik yang sama dengan karya para seniman profesional. Bagi saya, karya para seniman Brut Art merupakan sekumpulan karya seni yang memiliki misteri dan terkadang menampilkan gambaran dari penjelajahan spiritual yang mendalam. Meskipun kadang terlihat absurd, karya mereka rasanya secara kuat menampilkan dimensi spiritualitas sebagaimana karya para shaman di era modern.

Dalam pameran ini, saya dikenalkan kepada Atsuo Yamamoto yang bekerja sebagai kurator di Museum of Modern Art, Shiga. Beberapa tahun yang lalu, ia pernah berkunjung ke Bandung terkait dengan proyek Under Construction yang merupakan program Japan Foundation yang melibatkan para seniman dan kurator yang berasal dari beberapa negara di Asia. Menurutnya, selama ini banyak orang yang memiliki anggapan yang kurang tepat dengan menyebut gerakan Brut Art sebagai gerakan seni yang dibuat oleh orang gila. Lepas dari latar belakang para senimannya, Brut Art merupakan sebuah gerakan yang penting dalam perkembangan seni modern di Eropa. Karya para seniman Brut Art kerap mencerminkan spirit dan misteri dari petualangan imajinasi dan kreatifitas manusia. Meskipun dianggap sebagai sempalan dari gerakan mainstream, karya para seniman Brut Art juga ikut memberikan pengaruh yang penting bagi perkembangan seni modern, terutama bagi beberapa seniman semisal Jean Dubuffet dan André Breton yang merupakan figur penting bagi kelahiran gerakan surealisme di Eropa.

Selepas menyaksikan pameran ini, saya kemudian sempat berbincang-bincang dengan Minori Kuroda yang bekerja sebagai koordinator di The Institute of Ceramic Studies di Kota Koka yang juga terletak di wilayah Shiga. Kebetulan tempatnya bekerja juga merupakan tuan rumah untuk program pertukaran dan residensi Jenesys. Sampai saat ini, tempatnya bekerja sudah menjadi tuan rumah bagi beberapa seniman keramik yang berasal dari India, Indonesia dan Kamboja. Salah satu pesertanya adalah Nurdian Ichsan, seorang teman saya yang saat ini bekerja sebagai staff pengajar di FSRD – ITB. Tak lama setelah berkenalan, kami kemudian bersama-sama meninggalkan museum. Saya dan Hisako Hara kemudian menuju ke stasiun untuk kembali ke Osaka dengan menggunakan kereta.

Read Full Post »

Read Full Post »

Read Full Post »

Older Posts »