Feeds:
Posts
Comments

Untuk informasi lebih lengkap mengenai Cornelius silahkan kunjungi http://www.cornelius-sound.com/.

Woman Holding Her Breast (Ravinder Redy, paint and gilt on polyester resin fiberglass & wood, 1998)

Woman Holding Her Breast (Ravinder Redy, 1998) | Paint and gilt on polyester resin fiberglass & wood | Collection Fukuoka Art Museum

Sebagai bagian dari program residensi JENESYS, saya juga diundang untuk ikut terlibat dalam kegiatan The 4th Asian Museum Curator Conference yang diselenggarakan secara simultan di kota Fukuoka, Hiroshima, Osaka, Kyoto dan Yokohama, berbarengan dengan pelaksanaan Yokohama Triennale. Kegiatan ini merupakan rangkaian program yang telah diselenggarakan selama 4 kali sejak konferensi pertama yang diselenggarakan di Osaka pada tahun 2006. Kali ini, pembicaraan dalam konferensi difokuskan kepada upaya untuk mengembangkan pemahaman bersama bagi perkembangan di bidang seni dan kebijakan yang dikembangkan oleh beberapa museum seni di Jepang.

Konferensi ini merupakan sebuah ajang pertukaran informasi dan pengetahuan mengenai perkembangan terkini dalam wacana dan praktik seni kontemporer Asia, serta beberapa isu yang berkembang di beberapa museum di Asia. Dalam konferensi ini juga dibicarakan berbagai fenomena sosial dan budaya, serta beragam situasi yang berkembang di Asia guna memperdalam pemahaman mengenai wacana dan praktik seni di Asia, sekaligus membandingkan berbagai bentuk pendekatan dan strategi kuratorial yang dikembangkan oleh beberapa peserta yang kebanyakan bekerja sebagai kurator museum.

Beberapa peserta yang terlibat di dalam kegiatan ini diantaranya adalah Cai Tao (Guangdong Museum of Art, China), Michelle Ho (Singapore Art Museum), Tezuka Miwako (Asia Society and Museum, USA), Amerrudin Bin Ahmad (National Art Gallery Malaysia, Malaysia), Lim Daegeun (National Museum of Contemporary Art, Korea), Liu Jienne (National Museum of Contemporary Art, Korea), Hashimoto Azusa (National Museum of Art, Osaka), dan Yamaki Kasumi (Tokyo Metropolitan Teien Art Museum). Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan beberapa seniman semisal Hafiz (ruangrupa, Jakarta) dan Yap Sau Bin (Rumah Air Panas, Kuala Lumpur).

Dilaksanakan sejak tanggal 17 s/d 24 November 2008, kegiatan ini secara intensif membicarakan berbagai aspek kerja kuratorial semisal kebijakan dan strategi kurasi, pengelolaan museum, pengembangan kegiatan dan program publik, selain beberapa isu yang langsung terkait dengan perkembangan seni kontemporer di negara masing-masing. Dalam kesempatan ini, kehadiran para seniman yang berasal dari institusi non-museum menjadi studi kasus yang menjadi bahan perbandingan bagi berbagai bentuk praktik dalam perkembangan seni kontemporer yang saat ini semakin beragam.

Sesi pertama dari konferensi ini adalah kunjungan ke Fukuoka Art Museum untuk mengikuti kuliah umum dari Kuroda Raiji (Chief Kurator Fukuoka Art Museum), yang memberikan pemaparan mengenai perkembangan seni kontemporer di Asia sejak awal pendirian Fukuoka Art Museum sekitar tahun 1972. Pada saat itu, salah satu alasan untuk mengembangkan wacana dan praktik seni di Asia adalah untuk melawan dominasi pemahaman dan praktik seni modern yang dianggap terlalu Eurosentris. Menurut Kuroda Raiji, dalam perkembangan selanjutnya pemahaman mengenai praktik dan teori dari perkembangan seni kontemporer di Asia selalu menjadi bahan perdebatan dan senantiasa melahirkan pertanyaan. Berbagai bentuk perubahan dan pergeseran pemahaman yang terjadi merupakan salah satu bentuk refleksi perkembangan seni di Asia yang saat ini terlihat semakin dinamis dan senantiasa menampilkan kecenderungan yang baru.

Namun begitu, harus diakui bahwa pemahaman mengenai perkembangan seni kontemporer di Asia sampai saat ini masih dipengaruhi oleh model pemahaman yang dikembangkan oleh praktik dan wacana seni modern di Barat. Hal ini tentu saja tidak dapat dilepaskan dari proses kolonialisasi yang terjadi di masa lalu, yang dalam banyak hal mendorong terjadinya proses hegemoni budaya modern (Barat) di beberapa negara Asia. Selain itu, berbagai bentuk konstelasi di bidang politik, ekonomi dan kebudayaan secara global tampaknya saat ini semakin ikut mempengaruhi terbentuknya berbagai bentuk pemahaman dan praktik yang baru dalam perkembangan seni kontemporer di Asia.

Dalam hal ini rasanya semakin sulit untuk mendefinisikan pemahaman yang lebih jernih mengenai budaya Barat dan Timur, ketika proses globalisasi dan perkembangan di bidang teknologi semakin meleburkan batas-batas yang sebelumnya berdiri secara kokoh. Meskipun kerap menjadi bahan perdebatan, sampai saat ini sebetulnya belum ada penjelasan yang rinci mengenai apa yang dimaksud dengan Barat dan Timur. Oleh karena itu, di masa yang akan datang perkembangan seni kontemporer di Asia tampaknya akan selalu diwarnai dengan proses negosiasi, evaluasi dan refleksi yang menempatkan wacana dan praktik seni kontemporer berada di dalam wilayah “antara” Barat dan Timur. Seni kontemporer Asia akan masuk ke dalam wilayah tarik-ulur yang diwarnai dengan pergulatan pemikiran dan upaya untuk terus memaknai proses konstruksi sejarah, identitas, perubahan tradisi, refleksi, sekaligus spekulasi mengenai berbagai gambaran dari situasi (post) modernitas.

Pembicaraan mengenai seni kontemporer di Asia yang semakin kompleks juga semakin tidak dapat dipisahkan dari wacana mengenai proses globalisasi dan perkembangan yang pesat di bidang teknologi. Dalam hal ini, berbagai anggapan umum dan stereotype yang berkembang dalam pemahaman seni kontemporer di Asia tampaknya akan terus mengalami proses re-evaluasi dan koreksi yang tak berkesudahan. Selain itu, berbagai situasi yang berbeda di beberapa negara di Asia tampaknya juga ikut mendorong lahirnya pemahaman dan praktik yang beragam, bukan saja di kalangan seniman, tetapi bagi medan sosial seni secara keseluruhan. Berbagai bentuk pergeseran dalam wacana dan praktik seni yang ada di Asia semakin melebur ke dalam praktik budaya kontemporer yang memiliki relasi kuat dengan pergeseran situasi di bidang ekonomi, sosial, politik, termasuk perkembangan di bidang teknologi dan media. Hal ini pada perkembangannya akan menghasilkan serangkaian konstelasi baru yang membutuhkan pemahaman mengenai wacana dan praktik seni dengan model pengetahuan dan kesadaran yang baru.

Selepas mengikuti kuliah umum dan mencermati koleksi Fukuoka Art Museum, konferensi dilanjutkan dengan mengunjungi kota Hiroshima. Di sini kami mengunjungi Hiroshima City Museum of Contemporary Art (Hiroshima MOCA) dan mengikuti kuliah umum mengenai pengelolaan dan pengembangan kebijakan museum oleh Yukie Kamiya (Chief Curator). Dalam pemaparannya, Yukie Kamiya menjelaskan bahwa kebijakan utama bagi strategi kuratorial Hiroshima MOCA adalah menampilkan berbagai bentuk karya seni kontemporer yang membawa pesan perdamaian dan merefleksikan berbagai situasi yang berhubungan dengan kota Hiroshima. Sebagai sebuah institusi publik, saat ini Hiroshima MOCA dituntut untuk dapat mengembangkan berbagai bentuk kegiatan yang dapat melibatkan masyarakat secara luas.

Ketika mengunjungi Hiroshima MOCA, kami juga sempat menyaksikan pameran tunggal Cai Guo-Qiang yang baru saja menerima The 7th Hiroshima Art Prize. Sebagai salah satu seniman kontemporer Asia yang penting saat ini, karya-karya Cai Guo-Qiang dianggap merefleksikan pesan perdamaian sekaligus optimisme yang mendalam. Menurut Yukie Kamiya, karya Cai Guo-Qiang juga menyampaikan gagasan yang menarik ketika melihat kehancuran dan destruksi sebagai sebuah metafora bagi proses penciptaan kembali. Dalam karyanya, Cai Guo-Qiang juga banyak terinspirasi oleh situasi yang terjadi di kota Hiroshima, terutama peristiwa jatuhnya bom atom yang terjadi pada era perang dunia ke-2.

Selepas dari Hiroshima MOCA, kami kemudian berkesempatan untuk mengunjungi Hiroshima Peace Memorial Museum. Kegiatan kemudian diteruskan dengan diskusi yang menampilkan Kenji Kajiya (Associate Professor, Hiroshima City University, Faculty of Art) yang memberikan pemaparan mengenai kegiatan seni berbasis komunitas. Keesokan harinya, kegiatan konferensi dilanjutkan dengan mengunjungi The National Museum of Art, Osaka. Di sana kami menyaksikan pameran Self and Other: Potraits from Asia and Europe yang diselenggarakan oleh Asia-Europe Museum Network (ASEMUS) bekerjasama dengan beberapa museum di Jepang. Selanjutnya, kami melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi The National Museum of Modern Art, Kyoto. Kami menyaksikan pameran yang berjudul A Perspective on Contemporary Art: Emotional Drawing, yang menampilkan beberapa karya dari para seniman yang berasal dari Eropa, Asia dan Timur Tengah. Beberapa diantaranya adalah Aditi Singh, Manuel Ocampo, Leiko Ikemura, dan S. Teddy D.

Selanjutnya kami kemudian dipersilahkan untuk menyaksikan koleksi museum, dan menutup kegiatan kunjungan dengan berdiskusi bersama Kenjiro Hosaka (Ass. Curator The National Museum of Modern Art, Tokyo). Dalam diskusi, kami membicarakan beberapa aspek kuratorial dan penyelenggaraan kegiatan pameran Emotional Drawing yang merupakan salah satu kegiatan tindak lanjut dari penyelenggaraan kegiatan Asian Museum Curator Conference yang dilaksanakan sebelumnya. Setelah berbincang-bincang selama beberapa saat, kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Tokyo. Setelah ini, kami rencananya akan berkunjung ke Yokohama Triennale dan melakukan serangkaian diskusi yang diharapkan dapat menjadi masukan bagi pengembangan program di masa datang.

YCAM Building

Gedung YCAM (Desain oleh Arata Isozaki)

Selepas dari Kyoto, saya dan Yap Sau Bin melanjutkan perjalanan ke Fukuoka untuk menghadiri program The 4th Asian Museum Curator’s Conference. Namun sebelum langsung menuju Fukuoka, kami memutuskan untuk singgah di kota Yamaguchi dan mengunjungi Yamaguchi Center for Art and Media (YCAM). Lembaga ini didirikan pada tahun 2003 dan menjadi wadah bagi berbagai kegiatan pertunjukan, pameran, pemutaran film, kuliah umum, diskusi, serta riset dan pengembangan di bidang seni, teknologi dan media. Dirancang oleh Arata Isozaki, selain memiliki fasilitas galeri, ruang pertunjukan dan bioskop mini, gedung YCAM juga dilengkapi dengan perpustakaan umum yang memiliki koleksi buku, film, serta CD dengan topik yang bermacam-macam.

Sergi Jordà, Martin Kaltenbrunner, Günter Geiger & Marcos Alonso (Music Technology Group, Universitat Pompeu Fabra, Barcelona, Spain)

Sergi Jordà, Martin Kaltenbrunner, Günter Geiger & Marcos Alonso (Music Technology Group, Universitat Pompeu Fabra, Barcelona, Spain)

Ketika kami mengunjungi YCAM, lembaga ini tengah menyelenggarakan perayaan ulang tahun yang ke-5. Untuk kegiatan ini, YCAM menyelenggarakan sebuah pameran dengan judul “Minimum Interface“, yang menampilkan karya dari Sergi Jordà, Martin Kaltenbrunner, Günter Geiger, Marcos Alonso (Music Technology Group, Universitat Pompeu Fabra, Barcelona, Spain)/Akihiro Kubota /LEADING EDGE DESIGN/Zachary Lieberman, dan Theodore Watson/Daan Roosegaarde/SHINCHIKA/Chris Sugrue/Shunsuke Takawo. Salah satu karya yang ditampilkan dalam pameran ini adalah reacTable yang beberapa waktu kebelakang banyak menarik perhatian khalayak internasional sejak digunakan dalam tur konser Björk untuk album Volta.

Selain melihat pameran dan meninjau beberapa fasilitas di YCAM, kami juga sempat berbincang-bincang dengan Kazuano Abe (Chief Curator) dan Miki Fukuda (InterLab Manager). Kazuano Abe mengungkapkan kebijakan kuratorial di YCAM yang berupaya untuk menampilkan karya-karya yang memanfaatkan perkembangan teknologi, eksperimentasi dan kolaborasi bagi berbagai bentuk ekspresi artistik dalam pengertian yang sangat luas dan beragam. Untuk beberapa proyek khusus, YCAM biasanya mengundang seniman untuk bekerja dan mengembangkan karya mereka di InterLab, salah satu fasilitas yang dimiliki oleh YCAM. Miki Fukuda menjelaskan keberadaan InterLab merupakan salah satu fasilitas yang penting di YCAM. Di laboratorium ini, para seniman yang terlibat dalam kegiatan YCAM dapat melakukan eksperimentasi dan kolaborasi yang ditunjang dengan fasilitas dan sumberdaya manusia yang memiliki keahlian yang sangat beragam.

Program pendidikan untuk publik di YCAM

Program pendidikan publik di YCAM

Karena berbagai program dan kegiatan YCAM didukung sepenuhnya oleh pemerintah daerah Yamaguchi, maka pihak YCAM juga memiliki kewajiban untuk mengembangkan berbagai kegiatan yang dapat diakses oleh masyarakat di kota Yamaguchi. Oleh karena itu, salah satu kegiatan yang penting adalah program edukasi publik yang memungkinkan masyarakat setempat untuk mempelajari dan mengapresiasi berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh YCAM dari dekat. Salah satunya adalah kegiatan kunjungan rutin murid sekolah dasar agar dapat mengapresiasi perkembangan di bidang seni, pengetahuan dan teknologi secara langsung.

Menurut Miki Fukuda, rencana untuk mendirikan YCAM di Yamaguchi sebetulnya sudah dikembangkan sejak 20 tahun yang lalu. Waktu itu, walikota Yamaguchi merasa perlu untuk mengembangkan sebuah kebijakan strategi kebudayaan kota Yamaguchi yang memanfaatkan perkembangan di bidang teknologi informasi. Selama 20 tahun, gagasan ini menjadi sumber perdebatan dan polemik, karena banyak pihak yang meragukan manfaat langsung dari kebijakan ini. Baru pada tahun 2003 rencana ini kemudian diimplementasikan ketika YCAM didirikan sebagai sebuah lembaga yang mengambil fokus pada kegiatan kebudayaan dan teknologi.

Setelah 5 tahun berselang, saat ini banyak anggota masyarakat yang mulai melihat manfaat langsung dari YCAM. Melalui berbagai kegiatan yang dikembangkan oleh YCAM, kota Yamaguchi kemudian memiliki reputasi yang cemerlang di bidang perkembangan budaya kontemporer dan teknologi. Selain itu, kota ini juga berhasil meraih reputasi di level internasional yang membuat kota Yamaguchi memiliki daya tarik tersendiri. Kembali menurut Miki Fukuda, beberapa tahun kebelakang generasi muda kota Yamaguchi yang sebelumnya pindah ke kota lain mulai kembali dan mengembangkan berbagai kegiatan mereka di kota ini. Dalam hal ini, keberadaan YCAM tampaknya telah berhasil melahirkan kembali energi kreatifitas kota Yamaguchi.

Let Us Be Remembered

Let Us Be Remembered

Dari Osaka ke Kyoto

Yasuhiro Suzuki

Yasuhiro Suzuki

Setelah menghabiskan waktu selama 1 bulan di Osaka, saya melanjutkan kunjungan saya ke Fukuoka untuk mengikuti program The 4th Asian Museum Curator’s Conference yang diselenggarakan sejak tanggal 17 s/d 24 November 2008, bersamaan dengan pelaksanaan Yokohama Triennale. Selain di Fukuoka, konferensi ini diselenggarakan secara simultan dengan mengunjungi beberapa museum dan kurator di Hiroshima, Osaka dan Kyoto.

Sebelum berangkat ke Fukuoka, saya dan Yap Sau Bin memutuskan untuk menghabiskan waktu selama 2 hari di Kyoto. Di sini kami berencana untuk bertemu dengan beberapa seniman, sekaligus mengunjungi museum dan galeri. Sebelum berangkat ke Kyoto pada tanggal 15 November 2008, saya menyempatkan diri untuk bertemu dengan Shoko Nakata dan Roni untuk makan siang bersama, sebelum kemudian bertemu dengan Yap Sau bin di Stasiun Osaka untuk berangkat bersama-sama ke Kyoto dengan menggunakan kereta. Namun karena keterbatasan waktu, saya kemudian memutuskan untuk langsung menuju Kyoto dan bertemu dengannya di sana.

Begitu tiba di Stasiun Kyoto, saya kemudian bertemu dengan Yap Sau Bin yang menunggu di pintu keluar utama. Rencananya kami berdua akan menginap di rumah Tan Juichen. Karena hari masih siang, kami berdua memutuskan untuk mengunjungi Kuil Kiyomizu-dera, sebuah kuil peribadatan bagi para pengikut agama Buddha yang didirikan pada sekitar tahun 798. Ketika kami mengunjungi kuil ini, ada banyak sekali wisatawan yang secara khusus mendatangi kuil yang diusulkan untuk menjadi bagian dari situs peninggalan budaya UNESCO.

Di sekitar kuil, ada banyak rumah makan dan toko kecil yang menjual berbagai kerajinan dan cenderamata. Tampaknya Kuil Kiyomizu-dera merupakan situs yang penting bagi para pengikut Buddha di Jepang. Ketika kami datang di tempat ini, banyak orang yang tengah bersiap-siap untuk mengikuti ritual doa malam hari yang menjadi salah satu kegiatan rutin di kuil ini. Saya dan Yap Sau Bin kemudian memutuskan untuk langsung menuju rumah Tan Juichen ketika hari mulai gelap.

Begitu sampai di tempat tinggal Tan Juichen, saya diperkenalkan kepada Mariko. Tan Juichen adalah kenalan Yap Sau Bin ketika tinggal di Malaysia, sementara Mariko adalah istri Tan Juichen. Mereka baru menikah sekitar 1 tahun yang lalu. Tak berapa lama, kami kemudian diperkenalkan kepada Yasohiro Suzuki dan Shigemoto Shimpei. Kami kemudian makan malam bersama dan membicarakan banyak hal sebelum kemudian Yasuhiro Suzuki mempresentasikan beberapa karya dan pengalamannya bekerja sebagai seniman dan anggota tim peneliti untuk Research Center for Advanced Science and Technology (The University of Tokyo).

Menurut Tan Juichen, Yasuhiro Suzuki merupakan kasus yang menarik dalam perkembangan seni media di Jepang. Ia memiliki latar belakang pendidikan di bidang produk desain dan tidak memiliki pengetahuan yang khusus di bidang seni, teknologi dan media. Namun begitu, Yasuhiro memiliki kemampuan yang menarik dalam mengembangkan berbagai imajinasi dan gagasan, sehingga dalam banyak hal ia sangat menggantungkan kemampuannya dalam mengembangkan ide dan konsep dalam berkarya. Untuk mengembangkan gagasannya, ia banyak dibantu oleh para ahli di lembaga penelitian tempatnya bekerja. Saya rasa, apa yang dilakukan oleh Yasuhiro Suzuki merupakan sebuah contoh bagaimana seniman dapat mengembangkan ide dan gagasan mereka melalui kerja kolaborasi dan memanfaatkan perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Selepas berbincang-bincang dengan Yasuhiro Suzuki, Tan Juichen kemudian mengajak kami ke Onsen. Sebuah tempat pemandian umum tradisional Jepang. Di sana kami kemudian menghabiskan waktu beberapa lama untuk berendam di air hangat. Setelah letih beraktifitas selama beberapa waktu di Jepang, rasanya berendam di Onsen menjadi pilihan yang sangat tepat malam itu. Setelah puas berendam, kami kemudian kembali ke rumah Tan Juichen untuk beristirahat. Selama berada di Kyoto, rencananya saya akan mengunjungi beberapa galeri sebelum kemudian melanjutkan perjalanan ke Fukuoka.

Berikut adalah sebuah video dokumentasi karya instalasi yang dikerjakan oleh Otomo Yoshihide dan Yasutomo Aoyama. Karya mereka merupakan bagian dari kegiatan riset dan residensi yang dikembangkan oleh Yamaguchi Center for Arts and Media (YCAM), yang terletak di kota Yamaguchi. Saya baru saja mengunjungi tempat ini bersama Yap Sau Bin. Meskipun baru berdiri selama 5 tahun, institusi ini telah sukses menghasilkan berbagai karya seni yang memanfaatkan perkembangan teknologi dan media, lengkap dengan dukungan fasilitas dan sumber daya manusia yang memiliki keahlian yang sangat beragam. Silahkan kunjungi arsip video dokumentasi YCAM di halaman YCAMArchives untuk melihat beberapa karya eksperimental di bidang seni, media dan teknologi yang menarik.

Remo adalah sebuah organisasi yang memiliki fokus pada pengembangan dan eksplorasi karya artistik yang memanfaatkan media rekam dan teknologi digital. Mereka memulai aktifitasnya pada sekitar tahun 2002 dan menyelenggarakan berbagai kegiatan semisal pameran, workshop, diskusi, kuliah umum, pertunjukan, dsb. Ketika saya berkunjung ke Remo bersama Yap Sau Bin, kami bertemu dengan Nov Amenomori yang bertindak sebagai salah satu koordinator program. Selama ini, salah satu fokus Remo adalah mengembangkan wacana yang kritis mengenai penggunaan media yang melibatkan publik secara terbuka. Salah satu kegiatan mereka yang menarik adalah workshop Remoscope yang mengajak komunitas masyarakat setempat untuk membuat karya video senyap berdurasi singkat. Video di atas berjudul “White Head” dan merupakan salah satu karya hasil workshop yang mereka selenggarakan pada tahun 2006. Beberapa karya Remoscope yang lain dapat disaksikan di situs Youtube dalam saluran Remoscope.