Tidak terlalu jauh dari Kuil Todaiji, terdapat sebuah taman kota yang sangat luas. Dikenal dengan nama Nara Park, taman ini merupakan sebuah lapangan terbuka yang terletak di kaki Gunung Wakakusa. Disekeliling Nara Park, kita bisa menikmati teduhnya pepohonan yang rindang. Ketika saya datang ke taman ini, sekelompok anak muda dari Osaka tengah menyelenggarakan sebuah festival musik yang menampilkan pertunjukan beberapa kelompok band yang rata-rata terdiri dari para pemain yang masih berstatus mahasiswa.
Di taman ini, kawanan kijang dibiarkan hidup bebas. Berbaur dengan masyarakat yang datang untuk menikmati waktu luang mereka. Barangkali inilah fungsi dari sebuah taman kota. Sebuah ruang terbuka hijau yang juga berfungsi sebagai ruang sosial dan budaya, selain sebagai ruang konservasi lingkungan dan hewan-hewan liar. Sungguh beruntung benar warga kota Nara memiliki taman ini. Menurut saya, keberadaan taman ini juga ikut meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat karena memiliki sebuah ruang terbuka hijau yang memungkinkan mereka untuk saling berinteraksi dan berekspresi secara bebas.
Di Indonesia, hanya sedikit kota yang memiliki ruang terbuka hijau seperti Nara Park. Kalaupun ada, tidak semua bisa diakses oleh publik secara terbuka. Yang paling terkenal mungkin Kebun Raya Bogor yang memiliki koleksi tanaman tropis yang luasnya kurang lebih 80 hektar dan memiliki kurang lebih 15.000 jenis pohon dan tumbuhan. Di Bandung ada Taman Hutan Raya Juanda (THR Juanda) yang terletak di daerah Dago Pakar. Selain itu ada juga Taman Kota Babakan Siliwangi yang sekarang tengah menjadi sumber polemik karena konon akan dipugar menjadi kompleks restoran. Suatu saat, barangkali pemerintah di Indonesia perlu untuk memikirkan fasilitas untuk warga berupa taman kota yang teduh seperti di Nara.

