Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Museum’

Woman Holding Her Breast (Ravinder Redy, paint and gilt on polyester resin fiberglass & wood, 1998)

Woman Holding Her Breast (Ravinder Redy, 1998) | Paint and gilt on polyester resin fiberglass & wood | Collection Fukuoka Art Museum

Sebagai bagian dari program residensi JENESYS, saya juga diundang untuk ikut terlibat dalam kegiatan The 4th Asian Museum Curator Conference yang diselenggarakan secara simultan di kota Fukuoka, Hiroshima, Osaka, Kyoto dan Yokohama, berbarengan dengan pelaksanaan Yokohama Triennale. Kegiatan ini merupakan rangkaian program yang telah diselenggarakan selama 4 kali sejak konferensi pertama yang diselenggarakan di Osaka pada tahun 2006. Kali ini, pembicaraan dalam konferensi difokuskan kepada upaya untuk mengembangkan pemahaman bersama bagi perkembangan di bidang seni dan kebijakan yang dikembangkan oleh beberapa museum seni di Jepang.

Konferensi ini merupakan sebuah ajang pertukaran informasi dan pengetahuan mengenai perkembangan terkini dalam wacana dan praktik seni kontemporer Asia, serta beberapa isu yang berkembang di beberapa museum di Asia. Dalam konferensi ini juga dibicarakan berbagai fenomena sosial dan budaya, serta beragam situasi yang berkembang di Asia guna memperdalam pemahaman mengenai wacana dan praktik seni di Asia, sekaligus membandingkan berbagai bentuk pendekatan dan strategi kuratorial yang dikembangkan oleh beberapa peserta yang kebanyakan bekerja sebagai kurator museum.

Beberapa peserta yang terlibat di dalam kegiatan ini diantaranya adalah Cai Tao (Guangdong Museum of Art, China), Michelle Ho (Singapore Art Museum), Tezuka Miwako (Asia Society and Museum, USA), Amerrudin Bin Ahmad (National Art Gallery Malaysia, Malaysia), Lim Daegeun (National Museum of Contemporary Art, Korea), Liu Jienne (National Museum of Contemporary Art, Korea), Hashimoto Azusa (National Museum of Art, Osaka), dan Yamaki Kasumi (Tokyo Metropolitan Teien Art Museum). Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan beberapa seniman semisal Hafiz (ruangrupa, Jakarta) dan Yap Sau Bin (Rumah Air Panas, Kuala Lumpur).

Dilaksanakan sejak tanggal 17 s/d 24 November 2008, kegiatan ini secara intensif membicarakan berbagai aspek kerja kuratorial semisal kebijakan dan strategi kurasi, pengelolaan museum, pengembangan kegiatan dan program publik, selain beberapa isu yang langsung terkait dengan perkembangan seni kontemporer di negara masing-masing. Dalam kesempatan ini, kehadiran para seniman yang berasal dari institusi non-museum menjadi studi kasus yang menjadi bahan perbandingan bagi berbagai bentuk praktik dalam perkembangan seni kontemporer yang saat ini semakin beragam.

Sesi pertama dari konferensi ini adalah kunjungan ke Fukuoka Art Museum untuk mengikuti kuliah umum dari Kuroda Raiji (Chief Kurator Fukuoka Art Museum), yang memberikan pemaparan mengenai perkembangan seni kontemporer di Asia sejak awal pendirian Fukuoka Art Museum sekitar tahun 1972. Pada saat itu, salah satu alasan untuk mengembangkan wacana dan praktik seni di Asia adalah untuk melawan dominasi pemahaman dan praktik seni modern yang dianggap terlalu Eurosentris. Menurut Kuroda Raiji, dalam perkembangan selanjutnya pemahaman mengenai praktik dan teori dari perkembangan seni kontemporer di Asia selalu menjadi bahan perdebatan dan senantiasa melahirkan pertanyaan. Berbagai bentuk perubahan dan pergeseran pemahaman yang terjadi merupakan salah satu bentuk refleksi perkembangan seni di Asia yang saat ini terlihat semakin dinamis dan senantiasa menampilkan kecenderungan yang baru.

Namun begitu, harus diakui bahwa pemahaman mengenai perkembangan seni kontemporer di Asia sampai saat ini masih dipengaruhi oleh model pemahaman yang dikembangkan oleh praktik dan wacana seni modern di Barat. Hal ini tentu saja tidak dapat dilepaskan dari proses kolonialisasi yang terjadi di masa lalu, yang dalam banyak hal mendorong terjadinya proses hegemoni budaya modern (Barat) di beberapa negara Asia. Selain itu, berbagai bentuk konstelasi di bidang politik, ekonomi dan kebudayaan secara global tampaknya saat ini semakin ikut mempengaruhi terbentuknya berbagai bentuk pemahaman dan praktik yang baru dalam perkembangan seni kontemporer di Asia.

Dalam hal ini rasanya semakin sulit untuk mendefinisikan pemahaman yang lebih jernih mengenai budaya Barat dan Timur, ketika proses globalisasi dan perkembangan di bidang teknologi semakin meleburkan batas-batas yang sebelumnya berdiri secara kokoh. Meskipun kerap menjadi bahan perdebatan, sampai saat ini sebetulnya belum ada penjelasan yang rinci mengenai apa yang dimaksud dengan Barat dan Timur. Oleh karena itu, di masa yang akan datang perkembangan seni kontemporer di Asia tampaknya akan selalu diwarnai dengan proses negosiasi, evaluasi dan refleksi yang menempatkan wacana dan praktik seni kontemporer berada di dalam wilayah “antara” Barat dan Timur. Seni kontemporer Asia akan masuk ke dalam wilayah tarik-ulur yang diwarnai dengan pergulatan pemikiran dan upaya untuk terus memaknai proses konstruksi sejarah, identitas, perubahan tradisi, refleksi, sekaligus spekulasi mengenai berbagai gambaran dari situasi (post) modernitas.

Pembicaraan mengenai seni kontemporer di Asia yang semakin kompleks juga semakin tidak dapat dipisahkan dari wacana mengenai proses globalisasi dan perkembangan yang pesat di bidang teknologi. Dalam hal ini, berbagai anggapan umum dan stereotype yang berkembang dalam pemahaman seni kontemporer di Asia tampaknya akan terus mengalami proses re-evaluasi dan koreksi yang tak berkesudahan. Selain itu, berbagai situasi yang berbeda di beberapa negara di Asia tampaknya juga ikut mendorong lahirnya pemahaman dan praktik yang beragam, bukan saja di kalangan seniman, tetapi bagi medan sosial seni secara keseluruhan. Berbagai bentuk pergeseran dalam wacana dan praktik seni yang ada di Asia semakin melebur ke dalam praktik budaya kontemporer yang memiliki relasi kuat dengan pergeseran situasi di bidang ekonomi, sosial, politik, termasuk perkembangan di bidang teknologi dan media. Hal ini pada perkembangannya akan menghasilkan serangkaian konstelasi baru yang membutuhkan pemahaman mengenai wacana dan praktik seni dengan model pengetahuan dan kesadaran yang baru.

Selepas mengikuti kuliah umum dan mencermati koleksi Fukuoka Art Museum, konferensi dilanjutkan dengan mengunjungi kota Hiroshima. Di sini kami mengunjungi Hiroshima City Museum of Contemporary Art (Hiroshima MOCA) dan mengikuti kuliah umum mengenai pengelolaan dan pengembangan kebijakan museum oleh Yukie Kamiya (Chief Curator). Dalam pemaparannya, Yukie Kamiya menjelaskan bahwa kebijakan utama bagi strategi kuratorial Hiroshima MOCA adalah menampilkan berbagai bentuk karya seni kontemporer yang membawa pesan perdamaian dan merefleksikan berbagai situasi yang berhubungan dengan kota Hiroshima. Sebagai sebuah institusi publik, saat ini Hiroshima MOCA dituntut untuk dapat mengembangkan berbagai bentuk kegiatan yang dapat melibatkan masyarakat secara luas.

Ketika mengunjungi Hiroshima MOCA, kami juga sempat menyaksikan pameran tunggal Cai Guo-Qiang yang baru saja menerima The 7th Hiroshima Art Prize. Sebagai salah satu seniman kontemporer Asia yang penting saat ini, karya-karya Cai Guo-Qiang dianggap merefleksikan pesan perdamaian sekaligus optimisme yang mendalam. Menurut Yukie Kamiya, karya Cai Guo-Qiang juga menyampaikan gagasan yang menarik ketika melihat kehancuran dan destruksi sebagai sebuah metafora bagi proses penciptaan kembali. Dalam karyanya, Cai Guo-Qiang juga banyak terinspirasi oleh situasi yang terjadi di kota Hiroshima, terutama peristiwa jatuhnya bom atom yang terjadi pada era perang dunia ke-2.

Selepas dari Hiroshima MOCA, kami kemudian berkesempatan untuk mengunjungi Hiroshima Peace Memorial Museum. Kegiatan kemudian diteruskan dengan diskusi yang menampilkan Kenji Kajiya (Associate Professor, Hiroshima City University, Faculty of Art) yang memberikan pemaparan mengenai kegiatan seni berbasis komunitas. Keesokan harinya, kegiatan konferensi dilanjutkan dengan mengunjungi The National Museum of Art, Osaka. Di sana kami menyaksikan pameran Self and Other: Potraits from Asia and Europe yang diselenggarakan oleh Asia-Europe Museum Network (ASEMUS) bekerjasama dengan beberapa museum di Jepang. Selanjutnya, kami melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi The National Museum of Modern Art, Kyoto. Kami menyaksikan pameran yang berjudul A Perspective on Contemporary Art: Emotional Drawing, yang menampilkan beberapa karya dari para seniman yang berasal dari Eropa, Asia dan Timur Tengah. Beberapa diantaranya adalah Aditi Singh, Manuel Ocampo, Leiko Ikemura, dan S. Teddy D.

Selanjutnya kami kemudian dipersilahkan untuk menyaksikan koleksi museum, dan menutup kegiatan kunjungan dengan berdiskusi bersama Kenjiro Hosaka (Ass. Curator The National Museum of Modern Art, Tokyo). Dalam diskusi, kami membicarakan beberapa aspek kuratorial dan penyelenggaraan kegiatan pameran Emotional Drawing yang merupakan salah satu kegiatan tindak lanjut dari penyelenggaraan kegiatan Asian Museum Curator Conference yang dilaksanakan sebelumnya. Setelah berbincang-bincang selama beberapa saat, kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Tokyo. Setelah ini, kami rencananya akan berkunjung ke Yokohama Triennale dan melakukan serangkaian diskusi yang diharapkan dapat menjadi masukan bagi pengembangan program di masa datang.

Read Full Post »

gutai

Gutai Art Association

Selama saya berada di Osaka, kunjungan saya ke Hyogo Prefectural Museum of Art barangkali merupakan salah satu pengalaman yang paling menarik. Saya berkunjung ke museum ini bersama Yap Sau Bin untuk bertemu dengan Koichi Kawasaki yang bekerja sebagai kurator museum yang dikelola oleh pemerintah daerah kota Hyogo. Sebuah kota kecil yang terletak diantara kota Osaka dan Kobe. Di museum ini, kami berencana untuk melihat beberapa karya para seniman Gutai, sebuah gerakan seni avant-garde Jepang yang dimotori oleh Gutai Art Association. Organisasi ini merupakan sebuah asosiasi seniman yang dibentuk oleh Yoshihara Jiro pada tahun 1954. Menurut beberapa informasi, nama Gutai diusulkan oleh Shozo Shimamoto yang maknanya kurang lebih adalah “kongkrit”.

Sampai saat ini, Gutai dapat dikatakan sebagai sebuah gerakan seni avant-garde yang fenomenal di Jepang setelah era perang dunia ke-2. Meskipun sampai sekarang masih sulit untuk mendapatkan penjelasan yang komprehensif mengenai Gutai, dalam pemahaman yang paling umum para seniman Gutai sangat menekankan aksi yang kongkrit dalam mengembangkan berbagai karya artistik yang mereka buat. Mereka juga disebut-sebut sebagai kelompok seniman yang ikut mengawali perkembangan seni instalasi, seni performance, dan action painting, selain juga membawa pengaruh besar pada perkembangan seni abstrak ekspresionis dan seni konsep yang berkembang di daratan Eropa dan Amerika pada periode yang sama. Dalam beberapa hal, aktifitas mereka juga kerap dihubungkan dengan gerakan seni L’Art Informel dan Fluxus.

Menurut Koichi Kawasaki, gerakan seni yang diusung oleh Gutai sama sekali tidak memiliki intensi politis dan tidak dapat dikatakan sebagai seni mengedepankan artikulasi konsep tertentu. Apa yang mereka lakukan semata-mata merupakan aksi yang kongkrit dalam melakukan eksplorasi material dan merupakan sebuah bentuk penjelajahan berbagai kemungkinan ekspresi artistik yang personal untuk menangkap spirit zaman serta sensasi akan kebaruan. Namun, dalam konteks yang lebih luas, apa yang dilakukan oleh kelompok ini pada kenyataannya memiliki dampak yang politis, terutama ketika karya-karya personal yang dikembangkan oleh para seniman Gutai menjadi sebuah gerakan seni yang tidak hanya berpengaruh di Jepang, tetapi juga di beberapa negara Eropa dan Amerika.

Menurut beberapa catatan, pengaruh Gutai dalam konstelasi perkembangan seni modern secara internasional tidak dapat dilepaskan dari Michel Tapié yang memiliki hubungan yang dekat dengan Yoshihara Jiro. Ia adalah seorang kurator, kritikus seni dan kolektor yang mengembangkan wacana mengenai prinsip Tachisme yang terkait erat dengan gerakan seni L’Art Informel. Gerakan ini dianggap memiliki beberapa kesamaan dengan Gutai dan berkembang di Paris pada periode yang hampir bersamaan. Saat ini beberapa karya yang dibuat oleh para seniman Gutai banyak yang dikoleksi oleh berbagai museum dan galeri di Amerika dan Eropa. Di Jepang, beberapa museum yang memiliki koleksi yang merepresentasikan perkembangan para seniman Gutai adalah Hyogo Prefectural Museum of Art dan Ashiya City Museum of Art & History. Sebagai bagian dari perkembangan gerakan Gutai,Yoshihara Jiro menulis Gutai Art Manifesto pada tahun 1956. Kelompok ini kemudian membubarkan diri beberapa waktu setelah Yoshihara Jiro meninggal secara mendadak pada tahun 1972.

Selain menyaksikan koleksi karya seniman Gutai di Hyogo Prefectural Museum of Art, saya dengan Yap Sau Bin juga menyempatkan diri melihat beberapa koleksi dan pameran yang tengah diselenggarakan di museum ini. Kebetulan saat kami datang ada pameran perayaan 100 tahun imigrasi masyarakat Jepang ke Brazil. Beberapa karya dari seniman Jepang dan Brazil dipamerkan secara bersamaan dalam kegiatan ini. Dalam kesempatan ini, kami juga sempat menyaksikan beberapa koleksi museum yang memiliki beberapa karya dari Auguste Rodin, George Segal, Alberto Giacometti, Naum Gabo, dsb. Kami juga sempat mengunjungi perpustakaan museum untuk membaca beberapa arsip dan dokumen mengenai Gutai yang disimpan di ruang perpustakaan. Selanjutnya kami kemudian menyusuri gedung museum yang dirancang oleh Tadao Ando, seorang arsitek otodidak yang pernah bekerja sebagai supir truk dan menjadi seorang petinju sebelum mengembangkan karir di bidang arsitektur.

Read Full Post »

Benteng Osaka

benteng_osaka

Tempat ini mungkin merupakan sebuah situs yang menarik bagi mereka yang memiliki minat akan perkembangan sejarah dan kebudayaan Kerajaan Jepang. Terletak tepat di tengah taman kota yang sangat luas, Benteng Osaka berdiri tegak mengitari bangunan istana yang dibangun oleh Hideyosi Toyomi pada sekitar tahun 1583 sampai dengan tahun 1598. Dalam perkembangan sejarah Kerajaan Jepang, Hideyosi Toyomi dan Benteng Osaka memiliki peran yang penting dalam proses penyatuan Kerajaan Jepang yang dimulai sejak awal abad ke-16.

Saya mengunjungi tempat ini bersama Shoko Nakata. Sebelumnya kami telah memiliki rencana untuk bertemu dengan beberapa mahasiswa Jepang dan Indonesia, termasuk beberapa orang Indonesia yang saat ini tengah bekerja di Jepang. Beberapa diantaranya adalah Ernita Artha, Rahma Novita, Roni dan Arisman. Selain itu, dalam kesempatan ini kami juga bertemu dengan Ibu Yumi Sugahara yang merupakan seorang staff pengajar di Universitas Tenri. Selain bekerja sebagai dosen, ia juga seorang ahli sejarah yang banyak melakukan penelitian tentang perkembangan agama Islam pada abad ke-19 di Indonesia.

Setelah bertemu dengan para mahasiswa dari Jepang dan Indonesia, kami kemudian berjalan menuju ke Benteng Osaka melalui jalan masuk dari Stasiun Osaka-jo koen. Di sepanjang perjalanan, saya menyaksikan banyak orang yang tengah beraktifitas di sekitar Taman Benteng Osaka. Di akhir pekan, tempat ini memang biasanya sibuk oleh berbagai aktifitas warga kota Osaka maupun para wisatawan yang melancong ke kota ini. Di salah satu pojok taman, kami menyaksikan kerumunan orang yang tengah berbaris tertib untuk menyaksikan sebuah konser musik yang tampaknya akan berlangsung dengan meriah. Sambil menikmati suasana di Taman Benteng Osaka, saya menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan Ibu Yumi Sugahara.

Ibu Yumi Sugahara memberitahu bahwa selama beberapa waktu terakhir ia sering bepergian ke Indonesia untuk melakukan penelitian mengenai perkembangan agama Islam. Terakhir ia berkunjung ke Aceh untuk melakukan penelitian mengenai perkembangan agama Islam di sana. Saat ini, ia tengah mencoba untuk mempelajari beberapa dokumen yang berisi informasi mengenai perkembangan agama Islam yang ditulis dengan menggunakan teks bahasa Arab. Menurutnya, dokumen yang mencatat perkembangan agama Islam pada abad ke-19 di Indonesia kebanyakan menggunakan bahasa Belanda. Karena itu, Ibu Yumi merasa perlu untuk melakukan perbandingan dengan mempelajari dokumen yang menggunakan teks Arab, agar ia dapat memahami gambaran yang ada secara lebih utuh.

Begitu tiba di dalam Benteng Osaka, kami kemudian memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Sambil makan siang, kami melanjutkan pembicaraan mengenai berbagai situasi yang saat ini tengah berkembang di Jepang dan Indonesia. Sebagian kelompok masyarakat di Jepang dan Indonesia banyak yang merasa khawatir akan dampak dari resesi global yang saat ini tengah terjadi. Menurut beberapa informasi, resesi global saat ini sudah mulai mempengaruhi situasi ekonomi di kedua negara meskipun dalam skala yang berbeda. Namun begitu, sampai saat ini belum banyak orang yang dapat memprediksi apa yang akan terjadi apabila resesi global benar-benar menghantam situasi perekonomian di Asia. Tampaknya banyak pihak yang masih bertanya-tanya karena memang belum banyak orang yang merasakan dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.

Selepas makan siang, kami kemudian berjalan menuju Istana Osaka yang saat ini telah beralih fungsi menjadi museum yang memamerkan beberapa artifak sejarah peninggalan Hideyosi Toyomi. Diperkirakan lahir pada tanggal 26 Maret 1537, Hideyosi Toyomi dikenal sebagai figur penting yang merintis proses penyatuan Kerajaan Jepang. Terlahir dari keluarga petani yang miskin, ia memiliki beberapa nama sampai kemudian dikenal dengan nama Hideyosi Toyomi. Menurut informasi, sejak kecil ia kerap berkelana dan berganti pekerjaan sampai kemudian menjadi pengikut klan Oda yang dipimpin oleh Nobunaga Oda pada tahun 1557.

Di dalam Museum Istana Osaka, dipamerkan berbagai artifak peninggalan serta diorama yang menceritakan kisah kehidupan Hideyosi Toyomi yang meninggal pada tanggal 18 September 1598. Ketika berada di dalam istana, saya sempat menyaksikan pemandangan kota Osaka dari puncak istana yang terletak di lantai 8. Selain itu, saya juga menyempatkan diri untuk menyaksikan berbagai artifak peninggalan sejarah yang ditampilkan di setiap lantai. Salah satu materi yang menarik perhatian saya adalah miniatur pertempuran “The Summer War in Osaka” yang terjadi pada tahun 1615. Peristiwa ini merupakan momentum runtuhnya klan Hideyosi Toyomi, setelah anaknya yang bernama Hideyori Toyotomi gagal mempertahankan Istana Osaka dari serbuan Ieyasu Tokugawa, figur sentral klan Tokugawa yang kemudian melanjutkan proses penyatuan Kerajaan Jepang.

Setelah berkeliling di Museum Istana Osaka, saya kemudian bertemu dengan Farhan Helmy. Ia adalah seorang peneliti lingkungan hidup yang saat ini tengah melanjutkan studinya di Tokyo. Bersama dengan teman-teman yang lain, kami kemudian berbincang-bincang sambil beristirahat di pojok Benteng Osaka. Tak berapa lama, kami kemudian memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Saya dan Farhan kemudian melanjutkan perbincangan sambil menyusuri pusat keramaian di kota Osaka. Beberapa hal yang menjadi bahan pembicaraan kami waktu itu adalah berbagai persoalan sosial dan lingkungan yang ada di Indonesia. Terkait dengan perkembangan situasi saat ini, menurutnya pemerintah Indonesia harus dapat menentukan sikap dan kebijakan yang jelas karena berbagai kebijakan yang dikembangkan oleh Indonesia saat ini tidak dapat dipisahkan dari konstelasi politik global.

Satu hal yang ia contohkan adalah kebijakan pembangunan kota yang memperhatikan aspek pelestarian lingkungan hidup sebagai strategi untuk mengedepankan proses pembangunan yang berkelanjutan. Saat ini, terkait dengan isu pemanasan global seluruh warga dunia harus mulai memikirkan solusi bersama untuk mengatasi persoalan ini. Salah satunya adalah dengan mengembangkan kebijakan yang memperhatikan aspek pelestarian lingkungan hidup sebagai sebuah strategi yang mengedepankan proses pembangunan yang berkelanjutan. Dalam hal ini, proses perubahan global akan sulit dicapai apabila tidak didorong melalui perubahan yang terjadi di tingkat lokal. Menurut Farhan setiap orang saat ini dapat berkontribusi untuk menghentikan proses pemanasan global, tak terkecuali bagi masyarakat yang tinggal di kota Bandung.

Tak terasa hari sudah mulai malam. Kami sudah menghabiskan waktu selama beberapa jam dan membicarakan banyak hal. Saya kemudian memutuskan untuk kembali ke Shinobugaoka. Sementara itu, Farhan kembali ke apartemennya. Besok malam ia harus kembali ke Tokyo, sementara saya masih akan melanjutkan aktifitas saya di Osaka. Kami berjanji untuk terus bertukar informasi mengenai kegiatan masing-masing. Sebelum berpisah, Farhan juga menyampaikan pendapat bahwa kelihatannya hubungan kerjasama antar kelompok masyarakat di Jepang dan Indonesia perlu terus dikembangkan. Untuk hal ini, ia akan mengupayakan pertemuan dengan perwakilan pemerintah Indonesia di Osaka. Barangkali dengan melibatkan perwakilan pemerintah, usaha untuk menjalin hubungan kerjasama antara kelompok masyarakat di Jepang dan Indonesia dapat terwujud.

Read Full Post »

Sementara Hisako Hara membantu persiapan workshop Paramodel, saya dan Yap Siau Bin mengunjungi ruang galeri Suntory Museum untuk menyaksikan pameran “The Springtime of Russian Avant-Garde”. Kehadiran para seniman avant-garde Russia nampaknya memang melahirkan dampak tersendiri bagi perkembangan seni modern di Eropa. Lahir di awal abad ke-20, gerakan seniman avant-garde Russia juga sempat diwarnai oleh era Revolusi Russia yang terjadi pada tahun 1917. Lebih jauh, para seniman avant-garde Russia kemudian ikut melahirkan gerakan suprematisme, fauvisme dan konstruktivisme, yang sebelumnya mengadopsi gerakan kubisme, futurisme dan neo-primitivisme. Pada tahun 1920, sebagai dampak dari kebijakan ekonomi baru di Russia, para seniman avant-garde Russia mulai mendapat kritik yang tajam. Karya mereka dianggap terlalu mengedepankan kepentingan individu.

Dalam catatan pengantar pameran ini, selanjutnya prinsip – prinsip konstruktivisme mulai diaplikasikan ke dalam karya keramik, poster, fashion dan arsitektur. Sementara itu, para seniman avant-garde Russia kemudian banyak yang diusir dan mengungsi, namun kemudian mendapat pengakuan di beberapa negara di luar Russia. Wassily Kandinsky diangkat menjadi profesor di Bauhaus; Marc Chagall dan Aleksandra Ekster mengungsi ke Paris, sementara David Burliuk mengungsi ke Jepang sebelum kemudian hijrah ke Amerika. Pada tahun 1932, Central Committee of the Communist Party yang pada saat itu dipimpin oleh Joseph Stalin akhirnya memutuskan untuk membubarkan semua organisasi seni dan menentukan bahwa realisme sosial menjadi satu-satunya prinsip penciptaan dalam karya seni.

Saya merasa keputusan ini juga melahirkan dampak dan dinamika tersendiri dalam perkembangan seni rupa di Indonesia. Pada tahun 1938, Sudjojono dan Agus Djaja mendirikan Persatuan Ahli Gambar Indonesia (PERSAGI), dan melahirkan corak ekspresi estetik yang kental dengan isu sosial politik. Sanento Yuliman mencatat bahwa gerakan seni yang lahir setelah era ini merupakan identifikasi dari perjuangan bangsa, ditengah ketiadaan pranata penyangga kecuali pelukis dan perkumpulan pelukis. Pergolakan situasi militer, politik, dan sosial, serta pandangan seni lukis adalah ungkapan diri dan kehidupan, melahirkan seni lukis yang emosional, tegang, dinamis, dan mencitrakan dunia sekeliling.

Sementara itu, pemikiran yang spesifik di bidang estetika rupa-rupanya juga bergolak di Universitaire Leergang voor Takenleraren (Sekolah Guru Gambar) di Bandung, yang didirikan pada tahun 1947. Di sini seorang seniman Belanda yang bernama Ries Mulder mulai memperkenalkan gaya abstrak-geometris, yang mengadopsi gerakan kubisme dan prinsip estetika yang dikembangkan oleh Ecole de Paris. Diantara mahasiswa yang belajar di sana adalah Ahmad Sadali, Srihadi Sudarsono, Mochtar Apin, But Muchtar, Popo Iskandar dan Sudjoko. Karya-karya awal mereka pada saat itu memperlihatkan pengaruh kuat kubisme gaya Perancis.

Selanjutnya pada sekitar tahun 1963-1965 situasi politik di Indonesia mulai memanas. Gerak-gerik seniman Bandung mulai dibatasi oleh aktifitas seniman yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) dan faksi-faksinya yang mendukung prinsip realisme sosial. Didirikan pada tanggal 17 Oktober 1950, LEKRA merupakan lembaga yang disegani karena dianggap dekat dan mendukung kebijakan pemerintah yang berkuasa pada saat itu. Sampai kemudian terjadi proses peralihan kekuasaan politik pada tahun 1965, yang menyebabkan ruang gerak seniman Bandung kembali terbuka. Di era ini mulai muncul anggapan bahwa seni lukis Indonesia sudah mendapatkan hak asasinya yang paling murni. Para pelukis sudah kembali kepada seni lukis, dan bukan lagi “anak politik”.

Dalam buku yang berjudul Nusa Jawa: Silang Budaya (1996), Denys Lombard menguraikan catatan sebagai berikut:

“Kendati demikian, pada tahun 1963 keadaan memburuk. Konflik pecah dengan adanya “Manifesto Kebudayaan” (Manikebu), yang ditandatangani oleh sejumlah pengarang dan beberapa pelukis. Para partisan “l’art pour l‘art” menyatakan perang terhadap para seniman Lekra yang kekuasaannya mereka takuti. Pada tahun 1965-1966, lengkaplah sudah kemenangan mereka. Henk Ngantung, waktu itu walikota Jakarta, disingkirkan, Hendra dipenjara. Aliran realis di Yogyakarta dibubarkan; sementara di Jakarta dan Bandung, aliran nonfiguratif menegakan kepala.”

Ketika keluar dari ruang pameran, saya kemudian tertegun membayangkan sebuah periode yang krusial dalam perkembangan seni modern, dimana prinsip estetik individu bertemu dengan kepentingan ideologi negara yang diwarnai dengan konflik politik yang begitu dramatis. Barangkali bahkan sampai hari ini relasi antara seni dengan politik, atau bahkan hubungan antara seniman dengan masyarakatnya merupakan persoalan yang senantiasa dipenuhi dengan pertanyaan, ketegangan dan kecurigaan.

Prinsip kebebasan dan kemerdekaan individu akan terus diuji keberadaannya oleh semangat zaman. Di beberapa belahan dunia, hal ini bahkan berujung kepada konflik yang memakan banyak korban. Sampai kapan prinsip ini dapat bertahan saya kira akan sulit menjawabnya. Namun saya merasa bahwa kemerdekaan individu juga merupakan pondasi yang penting bagi otonomi masyarakat sipil. Dalam hal ini, memiliki imajinasi saya rasa merupakan hak dasar yang keberadaannya tidak dapat direbut oleh siapapun. Tak terkecuali oleh kepentingan ekonomi maupun politik atau bahkan ideologi negara.

Read Full Post »

“Here we have seen this process at work in the description of Zipangu, the ‘country of gold’, of the kingdom of Presenter John, ‘floating with milk and honey,’ and of the ‘strange lands’ infested with strange human forms. We have seen it in the depiction of a paradise where people sip nectar and of a barbarian land where cannibalism is rampant”

Kenji Yoshida (Imagined Asia, Imagined Europe, 2008)

Setelah tertunda selama beberapa waktu, akhirnya saya berkesempatan untuk mengunjungi pameran yang berjudul Self and Other: Potraits from Asia and Europe yang diselenggarakan di The National Art Museum, Osaka. Sesuai dengan judulnya, pameran ini menampilkan berbagai karya rupa yang merepresentasikan jejak pengalaman dari pola interaksi antara bangsa-bangsa di Asia dan Eropa. Selain memamerkan sejumlah lukisan, pameran ini juga menampilkan berbagai macam artifak visual semisal gambar, foto, poster, kain batik, kerajinan, ilustrasi, video, dsb.

Dalam sebuah pengantar yang ditulis oleh Yukika Kawaguchi, pengertian potret dalam bahasa Jepang sepadan dengan kata “shozo“. Artinya kira-kira kemiripan atau sebuah gambar. Dalam kaitan ini, kata potret kemudian juga dapat dimaknai sebagai sebuah gambaran yang mirip atau mencitrakan seseorang yang berasal dari dunia nyata dan bukan merupakan karakter rekaan. Pengertian ini juga terkait dengan kata “katadoru” (model atau duplikasi) yang juga dapat dimaknai sebagai sebuah gambar atau pencitraan, yang berakar dari kata “kataru” (cerita atau kabar). Dalam hal ini, “kataru” juga menyiratkan makna cerita sebagai sebuah kisah nyata yang bukan rekaan, sehingga juga terkait dengan pengertian yang berhubungan dengan representasi dari kenyataan. Dalam pengertian yang paling umum, kita kemudian juga dapat memaknai shozo atau potret sebagai sebuah gambaran dari kehadiran orang-orang dari dunia nyata yang disampaikan melalui medium yang beragam.

Menurut informasi, materi dari pameran ini dikumpulkan melalui program kolaborasi yang melibatkan museum seni dan budaya dari sekitar 18 negara anggota Asia-Europe Museum Network (ASEMUS). Saking banyaknya koleksi yang dipamerkan, kali ini kegiatan diselenggarakan di dua tempat, yaitu di National Museum of Ethnology dan The National Art Museum, Osaka. Setelah itu pameran ini rencananya akan berkeliling ke beberapa museum di Jepang. Mudah-mudahan suatu saat pameran ini juga dapat diselenggarakan di Indonesia.

Potret barangkali adalah sebentuk ekspresi yang secara gamblang menggambarkan persepsi manusia akan berbagai pengalaman, ingatan, imajinasi dan situasi lingkungan yang ada disekitar mereka. Merujuk pada pengertian yang luas tentang potret, pameran ini tampaknya memang berupaya untuk menelusuri catatan pengalaman yang menggambarkan pola hubungan antar bangsa di Asia dan Eropa dalam rentang waktu yang sangat panjang. Mulai dari berbagai bentuk pencitraan manusia sebelum bangsa-bangsa di Asia dan Eropa berinteraksi, sampai pada karya-karya yang merepresentasikan pola hubungan antar bangsa di era (post) modern yang begitu kompleks.

Dalam pameran ini saya juga berkesempatan untuk melihat karya Raden Saleh secara langsung. Dua diantaranya adalah lukisan potret A.H.W. Baron de Kock dan Elisabeth Antoinette yang dipinjam dari koleksi Tropenmuseum, Belanda. Berdasarkan informasi yang ada, keduanya dilukis pada tahu 1856. Dalam catatan yang ditulis oleh Denys Lombard (Nusa Jawa: Silang Budaya, 1996), sejak sekitar tahun 1629 lukisan merupakan alat transaksi yang penting bagi para pelaut Eropa untuk menjalin hubungan dengan para penguasa setempat di wilayah Nusantara. Ia juga mencatat bahwa Raden Saleh sempat menjadi penanggung jawab galeri potret resmi (Landsverzameling), yang memberinya kesempatan untuk melukis para Gubernur Jendral seperti Johanes van den Bosch, Jean Christian Baud dan bahkan Jendral Maarschalk H.W. Daendles.

Saya rasa pameran ini telah berhasil membawa khazanah pengetahuan seni dan budaya visual ke tataran yang sangat luas. Bukan saja memaparkan berbagai bentuk representasi visual dari hubungan bangsa-bangsa di Asia dan Eropa, pameran ini juga mengajak kita untuk melihat kembali berbagai lembar catatan yang merupakan jejak dari pengalaman bersama (shared experience) dan pengetahuan yang berasal dari interaksi antar peradaban yang begitu kaya. Hal ini setidaknya memperlihatkan bagaimana pengetahuan seni juga terkait dengan mekanisme produksi pengetahuan yang dapat menggambarkan berbagai aspek yang terkait dengan peradaban manusia secara rinci.

Pameran ini menampilkan berlapis-lapis catatan ingatan dari hubungan bangsa-bangsa di Asia dan Eropa, mulai dari persoalan kesejarahan, politik identitas, aktifitas perdagangan, penyebaran ilmu pengetahuan, perkembangan budaya populer, sampai pada akar dari strategi representasi dan pencitraan yang menggambarkan pola interaksi dan negosiasi antara “self” dan “the other” yang tampaknya tidak akan pernah berkesudahan. Satu hal yang tampaknya absen dari proses pembacaan ini adalah pergulatan ideologi dan kepentingan politik di Asia dan Eropa, yang sebetulnya tidak kalah sengit dan penuh dengan konflik yang begitu riuh rendah.

Read Full Post »

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.