
Gutai Art Association
Selama saya berada di Osaka, kunjungan saya ke Hyogo Prefectural Museum of Art barangkali merupakan salah satu pengalaman yang paling menarik. Saya berkunjung ke museum ini bersama Yap Sau Bin untuk bertemu dengan Koichi Kawasaki yang bekerja sebagai kurator museum yang dikelola oleh pemerintah daerah kota Hyogo. Sebuah kota kecil yang terletak diantara kota Osaka dan Kobe. Di museum ini, kami berencana untuk melihat beberapa karya para seniman Gutai, sebuah gerakan seni avant-garde Jepang yang dimotori oleh Gutai Art Association. Organisasi ini merupakan sebuah asosiasi seniman yang dibentuk oleh Yoshihara Jiro pada tahun 1954. Menurut beberapa informasi, nama Gutai diusulkan oleh Shozo Shimamoto yang maknanya kurang lebih adalah “kongkrit”.
Sampai saat ini, Gutai dapat dikatakan sebagai sebuah gerakan seni avant-garde yang fenomenal di Jepang setelah era perang dunia ke-2. Meskipun sampai sekarang masih sulit untuk mendapatkan penjelasan yang komprehensif mengenai Gutai, dalam pemahaman yang paling umum para seniman Gutai sangat menekankan aksi yang kongkrit dalam mengembangkan berbagai karya artistik yang mereka buat. Mereka juga disebut-sebut sebagai kelompok seniman yang ikut mengawali perkembangan seni instalasi, seni performance, dan action painting, selain juga membawa pengaruh besar pada perkembangan seni abstrak ekspresionis dan seni konsep yang berkembang di daratan Eropa dan Amerika pada periode yang sama. Dalam beberapa hal, aktifitas mereka juga kerap dihubungkan dengan gerakan seni L’Art Informel dan Fluxus.
Menurut Koichi Kawasaki, gerakan seni yang diusung oleh Gutai sama sekali tidak memiliki intensi politis dan tidak dapat dikatakan sebagai seni mengedepankan artikulasi konsep tertentu. Apa yang mereka lakukan semata-mata merupakan aksi yang kongkrit dalam melakukan eksplorasi material dan merupakan sebuah bentuk penjelajahan berbagai kemungkinan ekspresi artistik yang personal untuk menangkap spirit zaman serta sensasi akan kebaruan. Namun, dalam konteks yang lebih luas, apa yang dilakukan oleh kelompok ini pada kenyataannya memiliki dampak yang politis, terutama ketika karya-karya personal yang dikembangkan oleh para seniman Gutai menjadi sebuah gerakan seni yang tidak hanya berpengaruh di Jepang, tetapi juga di beberapa negara Eropa dan Amerika.
Menurut beberapa catatan, pengaruh Gutai dalam konstelasi perkembangan seni modern secara internasional tidak dapat dilepaskan dari Michel Tapié yang memiliki hubungan yang dekat dengan Yoshihara Jiro. Ia adalah seorang kurator, kritikus seni dan kolektor yang mengembangkan wacana mengenai prinsip Tachisme yang terkait erat dengan gerakan seni L’Art Informel. Gerakan ini dianggap memiliki beberapa kesamaan dengan Gutai dan berkembang di Paris pada periode yang hampir bersamaan. Saat ini beberapa karya yang dibuat oleh para seniman Gutai banyak yang dikoleksi oleh berbagai museum dan galeri di Amerika dan Eropa. Di Jepang, beberapa museum yang memiliki koleksi yang merepresentasikan perkembangan para seniman Gutai adalah Hyogo Prefectural Museum of Art dan Ashiya City Museum of Art & History. Sebagai bagian dari perkembangan gerakan Gutai,Yoshihara Jiro menulis Gutai Art Manifesto pada tahun 1956. Kelompok ini kemudian membubarkan diri beberapa waktu setelah Yoshihara Jiro meninggal secara mendadak pada tahun 1972.
Selain menyaksikan koleksi karya seniman Gutai di Hyogo Prefectural Museum of Art, saya dengan Yap Sau Bin juga menyempatkan diri melihat beberapa koleksi dan pameran yang tengah diselenggarakan di museum ini. Kebetulan saat kami datang ada pameran perayaan 100 tahun imigrasi masyarakat Jepang ke Brazil. Beberapa karya dari seniman Jepang dan Brazil dipamerkan secara bersamaan dalam kegiatan ini. Dalam kesempatan ini, kami juga sempat menyaksikan beberapa koleksi museum yang memiliki beberapa karya dari Auguste Rodin, George Segal, Alberto Giacometti, Naum Gabo, dsb. Kami juga sempat mengunjungi perpustakaan museum untuk membaca beberapa arsip dan dokumen mengenai Gutai yang disimpan di ruang perpustakaan. Selanjutnya kami kemudian menyusuri gedung museum yang dirancang oleh Tadao Ando, seorang arsitek otodidak yang pernah bekerja sebagai supir truk dan menjadi seorang petinju sebelum mengembangkan karir di bidang arsitektur.

