
Kali ini saya dan Yap Sau Bin berkunjung ke Kyoto Seika University yang terletak di pinggir kota Kyoto. Didirikan pada tahun 1968, universitas ini dikenal sebagai perguruan tinggi swasta yang memiliki reputasi sebagai institusi pendidikan progresif yang menyuarakan semangat kebebasan dan kemanusiaan. Konon, spirit yang dikembangkan oleh universitas ini merupakan wujud dari kritik terhadap sistem pendidikan Jepang pada tahun 1960-an yang terlalu mengedepankan kepentingan jalur produksi dan proses industrialisasi.
Kunjungan kami kali ini dipandu oleh Tan Juichen, seorang warga negara Malaysia yang telah tinggal dan belajar di Jepang selama 14 tahun. Selain tengah melanjutkan studinya, ia juga bekerja sebagai asisten pengajar di departemen media arts. Ia menceritakan bahwa semangat kebebasan yang dikembangkan oleh Kyoto Seika University merupakan dampak dari protes mahasiswa pada tahun 1968, yang menginginkan perubahan yang mendasar dalam sistem pendidikan. Sebagai hasilnya, berbagai bentuk metode pendidikan di universitas ini memiliki pola pendekatan yang berbeda apabila dibandingkan dengan berbagai perguruan tinggi lain yang ada di Jepang.
Secara garis besar, Kyoto Seika University memiliki 4 fakultas yang terdiri dari Faculty of Humanities, Faculty of Art, Faculty of Design, dan Faculty of Manga. Masing-masing fakultas yang ada terbagi menjadi beberapa departemen yang diantaranya adalag department of social & media studies, department of cultural & art studies, department of environmental & social studies, department of fine art, departement of material expression, department of media arts, department if visual design, department of product design, dsb.
Salah satu fakultas yang penting di universitas ini adalah Faculty of Manga yang terdiri dari department of cartoon & comic art, department of manga production dan department of animation. Fakultas ini juga terintegrasi dengan Kyoto International Manga Museum yang dikelola secara bersama oleh pemerintah kota Kyoto dan Kyoto Seika University. Museum ini memiliki galeri yang mengkoleksi komik dari seluruh dunia dan juga berfungsi sebagai pusat arsip yang kerap dimanfaatkan sebagai institusi bagi aktifitas riset dan pengembangan di bidang industri dan budaya manga.
Ketika berkeliling di Kyoto Seika University, kami sempat berbincang-bincang dengan Toshihiro Komatsu yang bekerja sebagai dekan di bagian International Education. Selain itu, ia juga seorang pelukis yang merupakan staff pengajar di fakultas seni untuk jurusan fine art. Sebelum mengajar di sini, pada sekitar tahun 1995 ia sempat mengikuti program residensi di Rijksakademie (Amsterdam) dan selanjutnya mendapat kesempatan untuk bekerja di studio PS.1 (New York). Menurutnya, saat ini ada banyak mahasiswa yang berminat untuk menggali kembali prinsip-prinsip seni lukis tradisional, meskipun ia kerap mendorong mahasiswanya untuk melakukan eksperimen.
Di Kyoto Seika University, saya sempat berkunjung ke beberapa studio di jurusan seni lukis, seni keramik, seni grafis, dan beberapa studio di jurusan desain dan manga. Suasana kampus ini menurut saya relatif mirip dengan suasana di FSRD-ITB. Di beberapa studio, saya sempat melihat para mahasiswa yang tengah giat melakukan studi dan berkarya secara bebas. Menurut Juichen Tan, sejak awal para mahasiswa di Kyoto Seika University memang diberikan keleluasaan untuk mempelajari berbagai hal sebelum kemudian mereka memilih untuk mengembangkan karyanya dengan menggunakan media tertentu. Selain itu, untuk meningkatkan minat para mahasiswa untuk belajar di universitas ini, beberapa fakultas kerap mengundang beberapa tokoh dari dunia profesional yang telah memiliki reputasi dan dikenal luas oleh masyarakat.
Terkait dengan situasi ekonomi dan tingkat kompetisi semakin meningkat, menurut Juichen Tan berbagai perguruan tinggi yang ada di Jepang harus terus membangun reputasi dan mengembangkan strategi agar dapat terus menarik minat mahasiswa untuk belajar di kampus mereka. Hal ini membuat suasana dunia pendidikan di Jepang menjadi dinamis dan penuh dengan perubahan. Walau begitu, secara esensi pola pendidikan di Jepang masih sama walau setiap tahun selalu ada beberapa penyesuaian yang dilakukan untuk merespon perkembangan yang ada.


merangkai mimpi untuk bisa k’Jepang……
3 tahun lagi berencana sekolah disana..emm..kira-kira ada S2-nya gak ya…
BTW, nice story.
Biaya administrasinya berapa y!? pasti mahal deh~ =_=a Boro2x kesana, mo masuk B*nus ama I*B aja gak mampu~ T^T
mimpi bangett aku bisa sekolah di kyoto seika University…
ambil jurusan manga.. weisssh.. walaupun sekarang sekolahnya arsitektur.. hehhe