
Saya sampai di stasiun Shin-Osaka sekitar jam 6.30 sore, setelah menghabiskan sekitar dua jam perjalanan dari Stasiun Tokyo dengan menggunakan kereta cepat Shinkansen. Hujan turun rintik-rintik membuat suasana terasa dingin. Tak Berapa lama menunggu, saya mendapat telpon dari Hisako Hara. Dia adalah tuan rumah yang akan bertindak sebagai fasilitator selama saya tinggal di Osaka. Beberapa waktu sebelumnya Hisako pernah berkunjung ke Bandung terkait dengan kegiatan Kita!! Japanese Artist Meet Indonesia.
Selain bekerja sebagai kurator dan kritikus seni, dia juga seorang profesor yang pengajar di Osaka Electro-Communication University, tepatnya di fakultas Information Science & Arts, untuk departemen Digital Art and Animation. Universitas ini terletak di daerah Shijonawate, dimana saya akan menghabiskan waktu selama beberapa minggu untuk melakukan riset dan berkegiatan bersama-sama dengan para mahasiswa. Rencananya saya akan tinggal di daerah ini sebelum melanjutkan perjalanan ke Fukuoka.
Dari stasiun Shin-Osaka, Hisako kemudian membawa saya ke Stasiun Osaka untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan naik kereta ke arah Shijonawate. Di tengah perjalanan, Hisako bercerita kalau perjalanannya ke Shin-Osaka agak terhambat karena ada insiden bunuh diri di Stasiun Kyobashi. Menurutnya, insiden ini merupakan suatu hal menyedihkan meskipun dianggap sebagai persoalan yang lazim terjadi di Jepang.
Sekitar satu jam kemudian, kami kemudian tiba di Stasiun Shinobugaoka, sebuah kota kecil yang terletak di wilayah Shijonawate. Sebelum mengantar ke apartemen, Hisako mengajak saya untuk makan malam sambil memberikan beberapa informasi yang terkait dengan rencana kegiatan saya di Osaka. Rencananya, kami akan membicarakan masalah ini secara lebih mendetail besok di kampus Osaka Electro-Communication University.
Setelah selesai makan, kami kemudian beranjak untuk menuju apartemen yang letaknya tidak terlalu jauh dengan Stasiun Shinobugaoka. Rupanya Shijonawate adalah kota kecil sehingga lokasinya relatif dapat dijangkau dengan berjalan kaki. Situasi di Shijonawate sangat jauh berbeda dengan Tokyo. Di sini suasananya lebih sepi karena tidak terlalu banyak orang. Tampaknya kebanyakan yang tinggal di daerah ini adalah mahasiswa yang bersekolah di Osaka Electro-Communication University. Apartemen tempat saya tinggal juga kelihatannya merupakan tempat tinggal mahasiswa.
Sebelum langsung menuju ke apartemen, Hisako mengajak saya untuk membeli beberapa keperluan di sebuah pusat perbelanjaan. Selanjutnya kami kemudian langsung menuju ke apartemen. Hisako meminta saya untuk beristirahat dan berjanji untuk menjemput saya besok pagi. Rencananya kami akan bersama-sama menuju ke kampus Osaka Electro-Communication University dengan menggunakan bus. Malam itu saya memaksakan diri untuk beristirahat meskipun masih dalam keadaan bingung karena harus beradaptasi dengan situasi baru yang menurut saya penuh dengan misteri.


Hm… diakhir ceritamu kok bs bilang misteri sp menjelang tidur? adakah yang ganjil shg bs disebut misteri?
mestinya seperti sy wkt berkunjung pertama kali ke jpg memang hrs siap ada penyesuaian di diri kita, baik lingkungan, sosial juga makanan. namun dalam wkt singkat +/- 2 jam sy sdh bs menyesuaikan, knp anda tdk spt sy bs secepat itu penyesuaian? mgkin menurutku (kasusnya sm dgn anda)yg mbuat sy cpt menyesuaikan k/ mdpt mentor yg pernah ke Indonesia dan bs berbicara Bhs Inggris namun tidak bs berbhs Indonesia.
Hehehe…terimakasih atas komentarnya ya Mas Bagus. Terus terang sampai sekarang saya masih agak kesulitan untuk beradaptasi, walaupun mulai terbiasa dengan situasi yang baru di Osaka. Mungkin kendala yang paling besar adalah persoalan bahasa. Menurut saya, keberagaman bahasa dan budaya yang membuat dunia kita masih penuh misteri sampai saat ini. Dalam perjalanan saya, justru hal ini yang selalu membuat saya tertantang untuk terus menggali dan mengalami berbagai situasi selama saya berkunjung ke beberapa kota di Jepang. Berjumpa dengan keberagaman merupakan berkah tersendiri buat saya.
Kalau masalah penyesuaian diri, barangkali setiap manusia sudah dibekali insting untuk bertahan hidup dengan cara beradaptasi. Baik secara fisik maupun mental. Kalau adaptasi fisik mungkin mudah. Tapi dalam tataran tertentu, secara sosial maupun kultural kadang kita mengalami beberapa hambatan dalam beradaptasi ke dalam lingkungan yang baru. Makanya kadang tidak mengherankan kalau kita menemukan kasus culture shock pada sekelompok masyarakat yang harus mengalami perubahan habitus budaya secara tiba-tiba. Hal ini kerap menimpa para imigran, pekerja asing, juga para korban perang yang harus mengungsi. Dalam tataran ini, kata adaptasi rasanya sudah tidak sesederhana seperti yang kita bayangkan.